(Vibiznews – Forex) – Posisi dolar AS dalam indeks dolar pada akhir perdagangan forex sesi Amerika hari Kamis dinihari (5/5/2022) anjlok ke posisi terendah dalam sepekan setelah di sesi Asia dan Eropa sudah melemah. Dolar AS juga terpantau melemah terhadap semua rival utamanya setelah pengumuman kenaikan suku bunga Federal Reserve.
The Fed telah memutuskan untuk menaikkan kisaran target untuk suku bunga dana federal sebesar 50 basis poin menjadi 0,75 hingga 1,0 persen dan mengatakan pihaknya mengantisipasi bahwa akan ada lagi kenaikan suku bunga berkelanjutan dalam kisaran target yang sama.
Lihat: The Fed Naikkan Suku Bunga AS 50 Bps, Terbesar Sejak Tahun 2000
Selain keputusan the Fed, terdapat beberapa laporan ekonomi yang juga membebani sentimen seperti laporan dari Institute for Supply Management menunjukkan PMI sektor jasa turun menjadi 57,1 pada April dari 58,3 pada Maret,lebih rendah dari perkiraan indeks akan naik tipis ke 58,5.
Prosesor penggajian ADP juga laporan pertumbuhan pekerjaan sektor swasta AS melambat lebih dari yang diharapkan di bulan April. Pekerjaan sektor swasta hanya meningkat 247.000 pekerjaan di bulan April setelah melonjak 479.000 pekerjaan di bulan Maret.
Departemen Perdagangan melaporkan defisit perdagangan AS melebar menjadi $109,8 miliar pada Maret dari revisi $89,8 miliar pada Februari, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya defisit melebar menjadi 107,0 miliar dolar.

Terhadap Euro, dolar melemah menjadi $ 1,0629 dengan anjlok lebih dari 1%. Dolar diperdagangkan pada $1,2634 melawan Pound Sterling, yang melemah dari $1,2500. Dolar melemah terhadap mata uang Jepang juga, menjadi 129,12 yen per unit, dibandingkan dengan 130,14 yen sesi sebelumnya. Terhadap Aussie, dolar anjlok hingga 2,5% ke 0,7266, Franc Swiss menguat menjadi 0,9722 per dolar, naik dari 0,9787. Dolar melemah terhadap Loonie juga, meluncur ke C$1,2740 dari C$1,2841.



