Harga Minyak Senin Ditutup Naik Tipis Dibayangi Sentimen Bearish Kelebihan Pasokan

442
harga minyak

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak berakhir naik tipis pada hari Senin karena masih adanya kekhawatiran seputar kelebihan pasokan minyak mentah dan janji pemotongan OPEC+. Namun ekspektasi penurunan inflasi AS dan penurunan dolar AS memberikan kenaikann tipis.

Minyak mentah berjangka WTI AS kontrak untuk bulan Januari berakhir naik 9 sen, atau 0,13%, menjadi $71,32 per barel.
Minyak mentah berjangka Brent kontrak bulan Februari naik 19 sen, atau 0,25%, menjadi $76,03 per barel.

Kedua kontrak tersebut melonjak lebih dari 2% pada hari Jumat tetapi turun selama tujuh minggu berturut-turut, penurunan mingguan terpanjang sejak 2018, di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan yang masih ada.

Investor masih tetap ragu dengan kepatuhan terhadap janji Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, untuk memangkas produksi minyak mentah sebesar 2,2 juta barel per hari (bpd) pada kuartal pertama

Pertumbuhan produksi di negara-negara non-OPEC diperkirakan akan menyebabkan kelebihan pasokan pada tahun depan.

Dengan pemotongan yang belum dilaksanakan sampai bulan depan, minyak menghadapi volatilitas selama dua bulan sebelum adanya kejelasan dari data kepatuhan yang dapat diukur, kata para analis.

Data indeks harga konsumen terbaru dari china, importir minyak terbesar dunia, menunjukkan meningkatnya tekanan deflasi karena lemahnya permintaan domestik menimbulkan keraguan terhadap pemulihan ekonomi negara tersebut.

Para pejabat China pada hari Jumat berjanji untuk memacu permintaan domestik dan mengkonsolidasikan serta meningkatkan pemulihan ekonomi pada tahun 2024.

Pelemahan harga baru-baru ini menarik permintaan dari Amerika Serikat, yang telah mencari hingga 3 juta barel minyak mentah untuk Cadangan Minyak Strategis (SPR) pada bulan Maret 2024.

Minggu ini investor mengamati panduan kebijakan suku bunga dari pertemuan lima bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, serta data inflasi AS untuk menilai potensi dampaknya terhadap perekonomian global dan permintaan minyak.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak akan bergerak hati-hati menjelang rilis data inflasi AS dan keputusan suku bunga bank sentral global di AS, Inggris dan Zona Eropa. Jika data inflasi AS terealisir turun dan menekan dolar AS, akan dapat menguatkan harga minyak. Harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $71,97-$72,62. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $70,51-$69,70.