(Vibiznews – IDX Stock) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (12/12/2025). Pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 27,48 poin atau 0,30% ke 8.650,05.
Berdasarkan pengamatan terdapat 277 saham naik, 122 saham turun dan 233 saham stagnan.Tujuh indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Sedangkan empat indeks sektoral lainnya masuk zona merah.
Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor energi yang naik 1,21%. Diikuti sektor barang baku naik 1,04% dan sektor properti yang naik 0,34%.
Sedangkan indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor infrastruktur yang turun 2,66%. Lalu sektor barang konsumen siklikal turun 0,64% dan sektor keuangan yang turun 0,15%.
Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 2,70 miliar saham dengan total nilai Rp 1,52 triliun.
Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen pasar penting hari ini setelah kemarin ambruknya IHSG secara tiba-tiba pada perdagangan. Hal ini menjadi peringatan keras jika sentimen global yang positif pun belum tentu mampu mengerek pasar keuangan domestik.
Buktinya, kabar baik pemangkasan suku bunga The Fed tak cukup mampu mengangkat IHSG kemarin.
Salah satu kabar yang masih membuat market cemas adalah kesepakatan dagang AS dan Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, isu batalnya kesepakatan dagang telah membuat banyak pihak bertanya-tanya dan membuat khawatir.
Laporan tersebut menyebut kesepakatan perdagangan Indonesia dengan AS terancam gagal karena para pejabat AS semakin frustrasi. Melihat adanya dugaan pengingkaran Jakarta terhadap ketentuan perjanjian yang dicapai pada bulan Juli.
Airlangga menegaskan, nanti malam dirinya sudah terjadwal mengadakan pertemuan secara daring dengan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat. Atau United States Trade Representative (USTR).
Meskipun demikian, Airlangga belum mau mengungkapkan isi perundingan yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut. Ia hanya memastikan, pemerintah akan mengumumkan hasil pertemuan virtual itu Jumat hari ini.
Sebagaimana diketahui, pada Juli lalu, AS sepakat untuk terus menurunkan pengenaan tarif resiprokal yang tinggi ke Indonesia. Yakni dari semula 32% menjadi 19% dan berpotensi lebih rendah lagi.
Namun, dalam laporan terbaru, AS kini menilai Indonesia mundur dari beberapa komitmen mengikat. Terutama terkait perdagangan digital serta hambatan non-tarif di sektor industri dan agrikultur.
Pasar Asia-Pasifik diperdagangkan lebih tinggi pada hari Jumat (12/12/2025). Mengekor kenaikan Wall Street setelah indeks acuan utama mencapai rekor baru menyusul keputusan Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan AS.
Indeks acuan Jepang Nikkei 225 naik 0,96%, sementara Topix bertambah 1,18%. Kospi Korea Selatan naik 0,29%, sementara Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil diperdagangkan di sekitar garis datar.
Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 naik 0,83%. Kontrak berjangka untuk indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.788, sedikit lebih tinggi dari penutupan terakhirnya di 25.530,51.
Semalam di AS, Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mencapai level tertinggi baru. Yaitu investor beralih dari saham teknologi yang sedang naik daun ke saham-saham yang dapat diuntungkan dari pertumbuhan ekonomi AS. Yakni setelah Federal Reserve memangkas suku bunga.
Indeks Dow yang terdiri dari 30 saham blue chip naik 646,26 poin. Atau 1,34% ditutup ke level 48.704,01, rekor penutupan tertinggi baru. Indeks ini juga mencetak rekor intraday tertinggi baru, didukung oleh kenaikan saham Visa setelah mendapat peningkatan peringkat dari Bank of America.
Pasar luas S&P 500 naik 0,21% untuk ditutup pada 6.901,00, juga rekor penutupan. Namun, Nasdaq Composite turun 0,26% untuk ditutup pada 23.593,86.
Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting



