Geopolitik Jadi Penentu Baru Pasar Global, Investor Tak Lagi Bisa Mengabaikannya

101

Risiko geopolitik kini tidak lagi dipandang sebagai faktor pelengkap dalam pengambilan keputusan investasi. Bagi investor global, manajer aset, dan korporasi multinasional, geopolitik telah berubah menjadi variabel utama yang secara langsung memengaruhi penilaian risiko, alokasi aset, dan strategi portofolio jangka panjang.

Permintaan terhadap analisis geopolitik meningkat tajam seiring bertambahnya konflik bersenjata, eskalasi ketegangan teritorial, serta kebijakan luar negeri negara-negara besar yang semakin sulit diprediksi. Dinamika ini kembali menjadi sorotan pekan ini ketika Amerika Serikat mengancam sejumlah negara dengan tarif perdagangan, kecuali tercapai kesepakatan terkait rencana AS untuk mengambil kendali atas Greenland. Pernyataan tersebut segera memicu reaksi pasar yang bergejolak, dengan pergerakan harga saham, mata uang, dan komoditas yang berfluktuasi tajam.

Bagi pelaku pasar, episode tersebut menjadi pengingat bahwa risiko geopolitik kini bergerak cepat, berdampak luas, dan menembus batas geografis maupun kelas aset. Ketegangan politik yang sebelumnya dianggap jauh dari pusat aktivitas ekonomi kini dapat secara langsung memengaruhi valuasi aset global dalam hitungan jam.

Dari Faktor Sekunder Menjadi Penentu Utama

Sebelum 2022, banyak investor cenderung menempatkan geopolitik di belakang faktor-faktor seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan bank sentral. Namun, invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menjadi titik balik penting yang mengubah paradigma tersebut. Perang tersebut tidak hanya memicu lonjakan harga energi dan pangan, tetapi juga mengganggu rantai pasok global, memicu sanksi ekonomi berskala besar, dan mempercepat fragmentasi geopolitik dunia.

“Sebelum 2022, geopolitik belum tentu menjadi fungsi penting dalam konteks investasi portofolio; itu lebih merupakan nilai tambah, bukan kebutuhan mutlak,” ujar Mehill Marku, kepala analis geopolitik di PGIM Fixed Income. Menurutnya, sejak perang Ukraina, jumlah permintaan klien terhadap analisis geopolitik melonjak signifikan.

Yang membuat tantangan ini semakin kompleks, kata Marku, adalah keterkaitan antar krisis global. Konflik militer, sanksi ekonomi, kebijakan perdagangan, isu energi, hingga stabilitas politik domestik kini saling terkait, menciptakan lanskap risiko yang jauh lebih sulit dipetakan dibandingkan satu dekade lalu.

Kebijakan Trump dan Era Volatilitas Baru

Periode kedua pemerintahan Donald Trump turut mempercepat pergeseran ini. Pendekatan kebijakan luar negeri dan perdagangan AS yang lebih konfrontatif, cepat berubah, dan sering disampaikan secara langsung ke publik telah meningkatkan ketidakpastian di pasar global.

Selain ancaman tarif terhadap berbagai negara, investor juga masih mencerna dampak dari:

  • Seruan Trump pada 2025 untuk menerapkan tarif luas yang kemudian dinegosiasikan secara bilateral,
  • Intervensi Amerika Serikat di Venezuela,
  • Pernyataan kebijakan yang sering kali berubah dalam waktu singkat dan memicu reaksi pasar instan.

Marc Gilbert, kepala BCG Center for Geopolitics, mengatakan bahwa geopolitik kini menempati posisi teratas dalam daftar prioritas klien, dari sebelumnya hanya “di sekitar peringkat 20 besar” satu dekade lalu.

“Segalanya kini terasa lebih cepat, lebih keras, dan jauh lebih volatil,” ujar Gilbert, merujuk pada kebijakan perdagangan dan luar negeri AS. Dalam 18 bulan terakhir, ia telah melakukan 235 pertemuan dengan eksekutif tingkat C-suite dan anggota dewan perusahaan terkait isu-isu geopolitik sebuah lonjakan yang mencerminkan perubahan mendasar dalam cara korporasi memandang risiko global.

Investor Mengubah Cara Menghitung Risiko

Perubahan lanskap ini juga tercermin di kalangan investor institusional besar, termasuk sovereign wealth fund. Pandu Patria Sjahrir, CIO dana kekayaan negara Indonesia Danantara, mengatakan bahwa fokus terhadap risiko geopolitik kini jauh lebih dominan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini, bahkan mungkin lebih dari tahun mana pun, kami jauh lebih fokus pada risiko geopolitik,” ujarnya. “Kami memikirkan skenario terburuk dalam proses underwriting. Bahkan, dalam banyak hal, skenario dasar saya sekarang adalah skenario terburuk.”

Pendekatan ini menandai pergeseran besar dari asumsi stabilitas global yang selama bertahun-tahun menjadi fondasi strategi investasi. Kini, ketidakpastian dianggap sebagai kondisi dasar, bukan pengecualian.

Membangun “Otot Geopolitik” Baru

Lonjakan risiko global mendorong investor dan perusahaan konsultan untuk mengembangkan kapabilitas geopolitik secara lebih terstruktur. Analisis yang sebelumnya bersifat insidental kini berkembang menjadi fungsi strategis, mencakup:

  • Pembentukan tim geopolitik internal,
  • Laporan country risk dan thematic risk,
  • Analisis skenario multi-level,
  • Simulasi dampak kebijakan terhadap portofolio lintas aset.

“Kami harus mengembangkan semacam otot baru,” kata Rishi Kapoor, wakil ketua dan kepala investasi Investcorp, perusahaan investasi alternatif terbesar di Timur Tengah. “Sebelumnya, latar belakang geopolitik cenderung dianggap stabil dan dapat diterima begitu saja.”

Industri Analisis Geopolitik Ikut Tumbuh

Meningkatnya kesadaran investor turut mendorong pertumbuhan perusahaan spesialis analisis geopolitik. Matt Gertken, kepala analis geopolitik di BCA Research, mengatakan perusahaannya terus berkembang seiring meningkatnya permintaan klien, meskipun tidak merinci detail pertumbuhan.

Firma konsultan Signum Global Advisors juga mencatat lonjakan permintaan, dengan peningkatan jumlah mitra sebesar 25% sepanjang tahun lalu, seiring bertambahnya klien institusional. Pendiri Signum, Charles Myers, menyebut minat investor terhadap dinamika politik Venezuela sangat tinggi, mencerminkan kebutuhan untuk memahami risiko dan peluang di negara-negara dengan ketidakpastian politik ekstrem.

Sementara itu, Eurasia Group melihat persaingan antar-penyedia analisis geopolitik semakin ketat. Namun, menurut Jens Larsen, kepala tim geo-ekonomi Eurasia Group, pasokan analisis belum sepenuhnya mampu mengejar lonjakan permintaan.

“Saya masih belum yakin bahwa suplai nasihat benar-benar mampu mengimbangi permintaan, terutama ketika tantangan global semakin bersifat multi-dimensi,” ujarnya.

Geopolitik Menjadi Variabel Kunci dalam Penilaian Risiko Pasar Keuangan Global

Meningkatnya peran geopolitik dalam investasi global membawa dampak nyata ke pasar keuangan. Investor kini semakin memperhitungkan risiko politik dalam setiap keputusan alokasi aset. Hal ini tercermin dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dan dolar AS, naiknya premi risiko di pasar negara berkembang, serta frekuensi volatilitas jangka pendek yang semakin sering dan tajam.

Perubahan ini juga mendorong investor global untuk meninjau ulang strategi diversifikasi mereka, dengan pendekatan yang lebih defensif dan selektif. Dalam kondisi ini, mengandalkan data inflasi atau sinyal bank sentral saja tidak lagi memadai. Pemahaman terhadap dinamika geopolitik, arah kebijakan negara besar, serta kepentingan strategis global kini menjadi faktor kunci dalam membaca arah pasar keuangan.