Peringatan MSCI, Gejolak Bursa; Arah Berikutnya? — Domestic Market Outlook, 2-6 February 2026

143
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu bergejolak, terutama setelah MSCI melakukan pembekuan sementara terhadap penyesuaian indeks saham Indonesia. IHSG sempat dua kali trading halt.
  • BI melaporkan dana asing keluar di pasar saham sebesar Rp12,4 triliun, serta keseluruhan tercatat net capital outflow, sekitar Rp12,6 triliun dalam sepekan.
  • Di akhir pekan Dirut BEI, serta Ketua dan Wakil Ketua DK OJK dan dua petinggi OJK lainnya mengundurkan diri.
  • Di awal pekan Komite Stabilitas Sistem Keuangan melaporkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan triwulan IV – 2025 dalam kondisi terjaga.
  • Sentimen global saat ini sekitar dinamika geopolitik Iran, Greenland, serta reaksi rilis nama baru calon Chairman the Fed.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang adalah rilis inflasi IHK, neraca perdagangan, serta PMI Manufaktur S&P pada hari Senin; pertumbuhan PDB hari Kamis; serta data cadangan devisa pada Jumat mendatang.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 2-6 February 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau sempat merosot tajam ke 4,5 bulan terendahnya dan mengalami dua kali trading halt, lalu rebound di hari terakhir pasar ke 1,5 bulan terendahnya. IHSG amblas setelah MSCI melakukan pembekuan sementara terhadap penyesuaian indeks saham Indonesia. Keputusan tersebut membuat aliran dana asing tertahan dan keluar. MSCI menilai bahwa pasar saham Indonesia belum sepenuhnya aman untuk dijadikan tujuan investasi global.

Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed di antara berita rencana penggantian pimpinan the Fed dan dinamika harga emas. Secara mingguan IHSG ditutup melemah tajam 6,94%, atau 621,404 poin, ke level 8.329,606.

Untuk minggu berikutnya (2-6 Februari 2026), IHSG kemungkinan akan melanjutkan rebound dari posisi rendahnya lalu konsolidasi, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level level level 8.596 dan 9.058. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7,742 dan bila tembus ke level 7,481.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir menguat kembali, sempat di 3,5 minggu terkuatnya lalu terkoreksi di dua hari terakhirnya. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 38 poin (0,23%) ke level Rp 16.780 per USD. Sementara, dollar global terpantau masih melemah di pekan keduanya, namun sudah bangkit dari level 4 tahun terendahnya yang oversold serta setelah pengumuman Kevin Warsh akan menjadi Chairman the Fed yang baru nantinya.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih bisa menanjak lalu tertahan, atau kemungkinan rupiah terkoreksi secara bertahap, dalam range antara resistance di level Rp16.833 dan Rp16.976, sementara support di level Rp16.705 dan Rp16.664.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yield obligasi dan berakhir ke level 6,346% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar SBN. Sementara yields US Treasury terpantau sideways dan berakhir flat.

===

Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan IV tahun 2025 dalam kondisi terjaga, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas.

Memasuki bulan Januari 2026, volatilitas pasar keuangan global sempat meningkat, terutama disebabkan oleh ketegangan perdagangan dan geopolitik.

Berdasarkan data transaksi 26 – 29 Januari 2026, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp12,55 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp12,40 triliun di pasar saham dan Rp2,77 triliun di pasar SBN, serta beli neto Rp2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

===

 

Sejak akhir tahun lalu, terus terjadi peningkatan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, seperti Timur Tengah, Greenland, Amerika Selatan, serta China. Nampaknya tensi geopolitik ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Di sisi ekonomi, arah sampai semana pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve terus dicermati dengan ketat dan dinamis. Pasar pun naik turun karena isyu-isyu tersebut. Belum lagi isyu yang disorot MSCI yang membuat gejolak pasar keuangan dalam negeri. Jadi dapat disimpulkan sentimen penggerak pasar tidak selalu bullish ataupun bearish, akan ada masanya berubah. Demikian juga pergerakan harga pasar tidak selalu meningkat, akan ada masanya menurun. Kapan naik dan kapan turun inilah yang perlu dicermati dengan mengikuti perkembangan sentimen pasar.

Karena itu ikuti perkembangan sentimen, data ekonomi, harga dan faktor penggerak lainnya di vibiznews.com, website investasi yang menyajikan sumber dan informasi yang akan menemani Anda pembaca setia Vibiznews. Sukses bersama Anda sepanjang minggu ini. Selamat berkarya!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting