The Fed Memutuskan Mempertahankan Suku Bunga, Prospek Inflasi AS yang Lebih Tinggi

139

(Vibiznews – Economy) – Federal Reserve pada Rabu waktu Amerika, atau Kamis dini hari WIB (19/3), memutuskan mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil dengan pertimbangan untuk mengatasi kemungkinan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, sinyal variatif pasar tenaga kerja, serta perkembangan perang di Timur Tengah.

Dalam keputusan yang sudah disetimasikan pasar ini, FOMC atau Komite Pasar Terbuka Federal memberikan suara 11-1 untuk mempertahankan suku bunga acuan the Fed dalam kisaran antara 3,5%-3,75%. Suku bunga ini menetapkan biaya overnight funding untuk bank, tetapi akan memengaruhi berbagai jenis pinjaman konsumen dan bisnis.

Sementara itu, dalam pernyataan setelah pertemuan, komite mengubah pandangannya tentang perekonomian AS, dengan prospek laju pertumbuhan yang lebih cepat dan proyeksi inflasi yang lebih tinggi untuk tahun 2026.

Bursa saham Wall Street terpantau jatuh karena keputusan bank sentral ini serta komentar Chairman Federal Reserve Jerome Powell yang menarik lebih banyak perhatian pada ancaman inflasi yang bertahan terus.

Salah satu faktor ketidakpastian adalah terkait dengan perang dengan Iran yang dimulai hampir tiga minggu lalu. Pertempuran dan dampaknya di Selat Hormuz telah mengacaukan pasar minyak global dan mengancam inflasi AS di atas target 2% the Fed.

“Implikasi perkembangan di Timur Tengah bagi perekonomian AS masih belum pasti,” menurut pernyataan the Fed. Dalam konferensi persnya, Powell mengatakan bahwa “masih terlalu dini untuk mengetahui” dampak perang tersebut.

 

Analis Vibiz Research Center melihat dari pernyataan setelah meeting, peluang penurunan suku bunga the Fed di tahun ini masih ada, namun semakin terbatas mengingat adanya risiko kenaikan inflasi AS termasuk dampak dari konflik perang Timur Tengah. Kemungkinan setidaknya akan ada satu kali pemangkasan suku bunga the Fed pada semester dua tahun 2026 ini.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group