(Vibiznews-Forex) – Poundsterling dalam pair GBPUSD tertekan cukup dalam hingga memangkas penguatan sebelumnya pada perdagangan forex Eropa hari Kamis (2/4/2026) di tengah rebound kuat dolar AS.
Poundsterling meluncur mendekati titik terendahnya sejak akhir November, karena kehati-hatian investor muncul kembali setelah pidato utama Presiden Donald Trump tidak memberikan kejelasan mengenai akhir konflik Timur Tengah.
Trump menegaskan bahwa operasi AS hampir selesai tetapi berjanji akan meningkatkan tindakan, termasuk kemungkinan serangan terhadap pembangkit listrik, selama dua hingga tiga minggu ke depan.
Kurangnya pembenaran baru untuk perang tersebut semakin membebani sentimen pasar. Sementara itu ketidakpastian yang berkelanjutan dan tekanan inflasi telah mendorong penilaian ulang ekspektasi kebijakan Bank of England.
Investor sekarang mengantisipasi dua kenaikan suku bunga pada tahun 2026, membalikkan empat hari penurunan taruhan yang membuat ekspektasi di bawah dua kenaikan pada penutupan kemarin.
Sebelumnya pasar sempat memperkirakan hingga empat kenaikan lagi, pergeseran ini terjadi meskipun Gubernur Bank of England Andrew Bailey baru-baru ini memperingatkan bahwa pasar terlalu melebih-lebihkan kemungkinan kenaikan suku bunga.
Secara teknikal, pair sedang meluncur menuju support lemahnya dan menurut analyst Vibiz Research Center pair berpotensi menuju posisi support selanjutnya.
Kini pair berada di posisi 1.3195 yang sedang turun menuju posisi 1.3164, jika tembus lanjut ke support lemahnya di S3.
Namun jika tidak sampai tembus 1.3150 akan berbalik arah dan mendaki menuju posisi pembukaan 1.3301, jika tembus berpotensi lanjut ke 1.3332 sebelum ke resisten kuat di R1.
| R3 | R2 | R1 | Pivot | S1 | S2 | S3 |
| 1,3485 | 1,3415 | 1,3357 | 1.3286 | 1.3228 | 1.3164 | 1.3104 |



