(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu kembali mixed, dengan IHSG menguat namun rupiah bearish 3 minggu ke rekor terendah barunya.
- Penjualan eceran Maret diprakirakan BI tumbuh sebesar 2,4% (yoy).
- PMI-BI triwulan I tumbuh ekspansi 52,03%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
- Sentimen global saat ini tetap sekitar konflik Timur Tengah, termasuk perkembangan gencatan senjata, jalur Selat Hormuz, pembicaraan diplomatik AS – Iran ronde kedua pada pekan ini, serta turunnya harga minyak mentah dunia.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis BI Rate pada hari Rabu yang diperkirakan bertahn di level 4,75%, serta jumlah uang beredar Maret pada hari Kamis nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 20-24 April 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat di pekan keduanya, sempat pada 6 minggu tertingginya lalu fluktuatif di rentang konsolidasi, mencari arah pasar berikutnya. Perdagangan terakhirnya ditopang penguatan sektor infrastruktur dan properti. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya bias menguat, di tengah harapan akan berakhirnya konflik perang Timur Tengah, meskipun terlihat rapuh dan dinamis. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 2,35%, atau 175,508 poin, ke level 7.634,004.
Untuk minggu berikutnya (20-24 April 2026) IHSG kemungkinan akan konsolidasi dan tetap berpeluang melanjutkan kekuatannya, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.898 dan 8.247. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7,118 dan bila tembus ke level 7,019.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir melemah di minggu ketiganya pada rekor terendahnya yang baru. Rupiah tercatat menjadi mata uang terlemah di Asia pada akhir pekan. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 95 poin atau 0,56% ke level Rp 17.185 per USD. Sementara, dollar global bias melemah dan sempat tergelincir ke 6,5 minggu terendahnya lalu bangkit lagi menjelang pembicaraan diplomasi AS – Iran yang kedua di Pakistan, yang akan berpengaruh kepada posisi dollar sebagai safe haven.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih uptrend dengan konsolidasi sebentar, atau kemungkinan rupiah bias terkoreksi ke sekitar rekor terendah sepanjang sejarahnya, dalam range antara resistance di level Rp17.200 dan Rp17.250, sementara support di level Rp17.040 dan Rp16.950.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun sedikit secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik terbatas yield obligasi dan berakhir ke level 6,583% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury terpantau menurun di minggu ketiganya.
===
Kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 diprakirakan tetap tumbuh. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang diprakirakan tumbuh sebesar 2,4% (yoy).
Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi.
Bank Indonesia melaporkan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tetap terjaga. Posisi ULN Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 437,9 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 434,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.
Kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan pada triwulan I 2026 meningkat dan berada pada fase ekspansi (indeks >50%), tecermin dari PMI-BI triwulan I 2026 sebesar 52,03%, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 51,86%.
===
Pasar investasi, acapkali demikian, suatu saat seperti begitu bergejolak dan terpuruk. Situasi demikian sering membuat investor gamang, kapan untuk entry atau exit di pasar. Mau masuk, takut merosot lagi. Mau keluar, siapa tahu nanti pasar rebound. Tidak keluar, jangan-jangan profit bisa berbalik loss. Di sinilah perlunya analisis pasar, baik teknikal maupun fundamental.
Kalau Anda masih kurang menguasainya, Anda harus belajar. Biaya belajar itu adalah sebuah investasi. Return-nya pasti lebih tinggi dan berdampak jangka panjang. Sekali lagi: jangan lupa belajar, dan belajar terus! Sukses bagi investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



