Selat Hormuz Dibuka Kembali, Tapi Pasokan Minyak Global Belum Langsung Pulih

93

Kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz membawa angin positif bagi pasar energi global. Namun, para pelaku industri memperingatkan bahwa normalisasi lalu lintas kapal dan pemulihan pasokan minyak tidak akan terjadi secara instan.

Jalur perdagangan energi paling strategis di dunia tersebut diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk kembali beroperasi secara normal, setelah konflik berkepanjangan menyebabkan gangguan besar terhadap pergerakan kapal tanker, pengiriman energi, serta rantai pasok global.

Meskipun pasar langsung merespons positif dengan penurunan harga minyak setelah kabar kesepakatan muncul, tantangan operasional di lapangan masih cukup besar. Faktor keamanan, asuransi, koordinasi antarnegara, hingga antrean kapal yang menumpuk menjadi hambatan utama sebelum arus perdagangan benar-benar kembali stabil.

Selat Hormuz Dibuka Bertahap, Bukan Langsung Normal

Para ahli industri pelayaran menilai pembukaan kembali Selat Hormuz kemungkinan besar akan dilakukan secara bertahap.

Adam Sharpe, Wakil Presiden Editorial di Lloyd’s List Intelligence, mengatakan skenario paling realistis adalah dimulainya kembali aktivitas pelayaran dengan sistem pengaturan tertentu.

“Skenario yang paling mungkin adalah pembukaan kembali secara bertahap,” ujar Sharpe.

Menurutnya, mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal kemungkinan melibatkan koordinasi antara Iran dan Oman untuk memastikan keamanan jalur pelayaran.

Hal ini disebabkan karena Selat Hormuz bukan hanya jalur perdagangan biasa, melainkan salah satu titik paling penting dalam distribusi energi dunia.

Sebelum konflik terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG) melewati kawasan tersebut. Gangguan di jalur ini langsung memberikan dampak terhadap harga energi, biaya logistik, serta tekanan inflasi global.

Harga Minyak Turun, Namun Pemulihan Pasokan Masih Menjadi Tantangan

Harga minyak sempat turun di bawah level US$80 per barel setelah pasar merespons berita bahwa Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Investor melihat peluang bahwa pasokan minyak, LNG, dan berbagai komoditas lain dapat kembali mengalir setelah hampir empat bulan terjadi gangguan pelayaran.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman pada Rabu malam yang mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya oleh Iran selama setidaknya 60 hari.

Namun, analis pasar menilai proses pemulihan fisik pasokan energi membutuhkan waktu lebih panjang.

Meskipun jalur perdagangan dibuka kembali secara politik, distribusi energi belum tentu langsung kembali ke kondisi normal.

Operator kapal, otoritas pelabuhan, dan perusahaan energi di kawasan Teluk masih menghadapi sejumlah pertanyaan penting, mulai dari prosedur izin kapal, sistem pengamanan, hingga kemungkinan adanya risiko ranjau laut.

Antrean Kapal Menjadi Masalah Utama

Salah satu tantangan terbesar adalah jumlah kapal yang tertahan akibat konflik.

Kpler, perusahaan penyedia data energi dan pelayaran, memperkirakan terdapat sekitar 118 kapal tanker yang masih terjebak di kawasan Teluk Persia.

Para analis memperkirakan proses mengurai antrean tersebut dapat memakan waktu sekitar 10 hingga 15 hari.

Namun, periode tersebut belum berarti pemulihan penuh.

Kpler menyebut peningkatan awal aktivitas pelayaran kemungkinan hanya bersifat mekanis, yaitu meningkatnya jumlah kapal yang bergerak tanpa langsung meningkatkan kapasitas distribusi energi secara keseluruhan.

Jika jumlah kapal yang menunggu sangat besar, maka proses prioritas pengiriman menjadi faktor penting.

Kapal tanker minyak dan LNG kemungkinan akan mendapat prioritas utama karena perannya terhadap pasar energi global.

Sementara itu, pengiriman kontainer dan komoditas lain berpotensi mengalami keterlambatan lebih panjang.

Mengapa Pembukaan Hormuz Tidak Mudah?

Secara teknis, membuka kembali jalur pelayaran setelah konflik bukan sekadar keputusan politik.

Ada sejumlah faktor yang harus diselesaikan sebelum kapal dapat bergerak bebas.

Pertama adalah aspek keamanan.

Pasukan angkatan laut perlu memastikan jalur transit aman, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya ranjau laut atau ancaman lain.

Kedua adalah faktor asuransi.

Selama konflik berlangsung, perusahaan pelayaran menghadapi peningkatan risiko sehingga premi asuransi kapal meningkat.

Tanpa perlindungan asuransi yang memadai, banyak operator kapal akan tetap berhati-hati untuk kembali memasuki kawasan tersebut.

Ketiga adalah koordinasi antarnegara.

Otoritas Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab perlu menyusun sistem lalu lintas kapal, jadwal transit, hingga mekanisme pengawasan.

Adam Sharpe mengatakan perusahaan asuransi akan membutuhkan bukti bahwa kondisi operasi sudah stabil sebelum menurunkan premi risiko.

Menurutnya, faktor seperti keamanan perjalanan, risiko ranjau, potensi eskalasi konflik, hingga hubungan politik kapal dengan negara tertentu akan tetap memengaruhi biaya pelayaran.

Pasar Energi Masih Mengawasi Risiko Geopolitik

Meskipun kesepakatan AS-Iran memberikan sentimen positif, pasar belum sepenuhnya menghapus risiko geopolitik.

Salah satu perhatian utama adalah program nuklir Iran yang masih menjadi isu dalam pembicaraan lanjutan.

Selain itu, investor juga melihat apakah kesepakatan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang atau hanya menjadi penghentian sementara konflik.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pasar energi sangat sensitif terhadap perubahan geopolitik.

Gangguan kecil di wilayah produksi atau jalur distribusi utama dapat berdampak besar terhadap harga minyak global.

Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Harga Minyak

Perubahan situasi geopolitik membuat sejumlah lembaga keuangan mulai menyesuaikan proyeksi harga minyak.

Goldman Sachs menurunkan perkiraan harga minyak Brent setelah pengumuman kesepakatan AS-Iran.

Bank investasi tersebut memangkas proyeksi Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi US$80 per barel, dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar US$90 per barel.

Untuk rata-rata tahun 2027, Goldman memperkirakan harga Brent berada di sekitar US$75 per barel.

Dalam laporan tertanggal 16 Juni, Goldman Sachs menyatakan bahwa pemulihan pasokan kemungkinan akan lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.

Mereka memperkirakan aliran minyak dari kawasan Teluk telah meningkat hingga sekitar 11 juta barel per hari, baik melalui Selat Hormuz maupun jalur pengalihan lainnya.

Investor Menanti Normalisasi Pasokan Global

Bagi pasar global, pembukaan Selat Hormuz menjadi langkah awal, bukan akhir dari masalah.

Investor kini akan memperhatikan seberapa cepat kapal kembali beroperasi, bagaimana respons perusahaan asuransi, serta apakah pasokan energi benar-benar kembali stabil.

Jika proses normalisasi berjalan lancar, tekanan terhadap harga minyak dan inflasi global dapat berkurang.

Namun, jika terdapat hambatan keamanan atau ketidakpastian politik baru, pasar energi masih berpotensi menghadapi volatilitas tinggi.

Dengan demikian, meskipun kesepakatan AS-Iran memberikan optimisme baru, perjalanan menuju kondisi normal di Selat Hormuz masih membutuhkan waktu dan koordinasi besar dari berbagai pihak.