(Vibiznews – Forex) Sepanjang semester I 2026, Indeks Dolar AS (DXY) mengalami perjalanan dua babak yang kontras. Pada bulan Januari, dolar AS jatuh ke level terlemah dalam lima tahun terakhir di kisaran 96,5, terseret tekanan politik terhadap independensi bank sentral, dan spekulasi pemangkasan suku bunga agresif oleh The Federal Reserve. Namun sejak nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed pada pertengahan Februari, arah tren berbalik secara bertahap.
Momentum pembalikan itu berlanjut hingga paruh kedua kuartal II, ketika eskalasi konflik di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi, inflasi headline AS melompat ke 4,2% pada Mei 2026, dan The Fed mempertahankan suku bunga di 3,50%–3,75% sembari memberi sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan pada Oktober. Kombinasi ini mendorong DXY menembus level psikologis 100 dan mencatat penutupan akhir semester di 101,30 pada 30 Juni 2026 — level tertinggi sejak Mei 2025.
Namun demikian, laporan tenaga kerja (Non-Farm Payrolls) Juni yang jauh di bawah ekspektasi — hanya 57.000 lapangan kerja baru berbanding proyeksi 110.000 — memicu koreksi cepat pada pekan pertama Juli, dengan probabilitas kenaikan suku bunga September yang dipatok pasar turun tajam dari sekitar 64–67% menjadi hanya 50%.
1. Perjalanan Indeks Dolar AS (DXY) Sepanjang Semeseter 1 2026
Secara keseluruhan, DXY bergerak dari 97,96 pada penutupan akhir 2025 menuju 101,30 pada akhir Juni 2026, mencatatkan penguatan bersih sekitar 3,4% untuk semester tersebut. Namun rentang pergerakan jauh lebih lebar dari sekadar selisih titik awal-akhir: indeks ini terlebih dahulu melorot hingga sekitar 96,5 sebelum berbalik arah dan menanjak lebih dari 4,5 poin dalam empat bulan berikutnya.
Tabel Level DXY Bulanan dan Konteks Pasar, Semester 1 2026
| Periode | Level DXY
(akhir periode) |
Perubahan Bulanan | Konteks Utama |
| Des 2025 (penutupan) | 97,96 | — | Titik awal referensi semester |
| Januari 2026 | ~96,5 | −1,5% | Low 5 tahun; narasi de-dolarisasi & tekanan ke The Fed |
| Februari 2026 | ~98,3 | +1,9% | Nominasi Kevin Warsh; DXY mulai breakout dari downtrend |
| Maret 2026 | ~99,0 | +0,7% | Konsolidasi; putusan SCOTUS soal legalitas tarif Trump |
| April 2026 | ~99,5 | +0,5% | Volatilitas lanjutan terkait kebijakan dagang |
| Mei 2026 | ~99,4 | −0,1% | Fed tahan suiku bunga 3,50–3,75%; data tenaga kerja mulai melunak |
| Juni 2026 | 101,30 | +1,9% | Eskalasi Iran/Hormuz, CPI 4,2%, The Fed hawkish; puncak semester |
Tiga fase yang tampak jelas dari pergerakan di atas adalah: (1) fase pelemahan tajam pada Januari yang didorong sentimen politik dan ekspektasi pelonggaran The Fed; (2) fase pemulihan bertahap dari Februari hingga Mei yang ditopang oleh redanya spekulasi pemangkasan suku bunga; dan (3) fase reli tajam pada Juni yang dipicu oleh kombinasi inflasi energi dan sikap hawkish The Fed, sebelum sebagian terkoreksi menjelang awal Juli akibat data ketenagakerjaan yang lemah.
2. Faktor-Faktor Pendorong Utama
2.1 Kebijakan The Federal Reserve dan Faktor Kevin Warsh
Sepanjang paruh pertama 2025, suku bunga acuan The Fed sempat tertahan di 4,50% sebelum dipangkas tiga kali sejak September 2025 menuju 3,75%. Memasuki 2026, spekulasi bahwa Presiden AS akan menekan The Fed untuk melanjutkan pelonggaran agresif — termasuk melalui pergantian kepemimpinan bank sentral — menjadi salah satu pemberat utama dolar pada Januari. Titik balik terjadi ketika Kevin Warsh dinominasikan sebagai calon Ketua The Fed berikutnya; pasar awalnya tidak yakin dengan arah kebijakannya, tetapi persepsi bahwa ia merupakan sosok yang relatif hawkish dan berorientasi pada stabilitas harga membantu memulihkan kepercayaan terhadap dolar.
Pada pertengahan Juni, The Fed di bawah kepemimpinan Warsh mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% sekaligus memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan seiring lonjakan inflasi energi — sebuah pembalikan signifikan dari konsensus awal tahun yang memperkirakan DXY akan jatuh ke kisaran 90-an. Namun pada awal Juli, Warsh melunakkan nada bicaranya di forum ECB, menyebut ekspektasi inflasi mulai mereda sehingga tidak ada urgensi pengetatan segera — meski tetap menegaskan komitmen jangka panjang terhadap stabilitas harga.
2.2 Lonjakan Inflasi Akibat Konflik Iran dan Selat Hormuz
Eskalasi konfrontasi di sekitar Selat Hormuz pada Mei–Juni 2026 mendorong harga energi melonjak lebih dari 23% secara tahunan, mengangkat inflasi headline AS ke 4,2% pada Mei 2026 — level tertinggi sejak April 2023 — sementara inflasi inti relatif lebih terkendali di 2,9%. Karena kenaikan inflasi ini bersifat energi-driven dan bukan berasal dari permintaan domestik yang berlebihan, sebagian analis menilai dampaknya terhadap kebijakan moneter bersifat sementara. Meski demikian, tingkat inflasi headline yang tinggi memangkas ruang gerak The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat, yang pada gilirannya menopang penguatan dolar.
2.3 Data Ketenagakerjaan yang Melemah pada Akhir Semester
Setelah pasar tenaga kerja AS relatif stabil sepanjang kuartal II, laporan Non-Farm Payrolls untuk Juni menunjukkan pelemahan mencolok: hanya 57.000 lapangan kerja baru tercipta — jumlah terlemah dalam empat bulan — jauh di bawah proyeksi 110.000, disertai revisi ke bawah untuk data April dan Mei. Tingkat pengangguran justru turun tipis ke 4,2%, namun penurunan ini lebih disebabkan oleh menyusutnya tingkat partisipasi tenaga kerja ketimbang perbaikan riil pasar kerja. Data ini langsung memangkas probabilitas pasar untuk kenaikan suku bunga September dari sekitar 64–67% menjadi mendekati 50%, dan menjadi pemicu utama koreksi DXY di awal Juli.
2.4 Ketidakpastian Kebijakan Dagang dan Tarif
Ketidakpastian hukum terkait keabsahan kebijakan tarif era Trump — termasuk penantian putusan Mahkamah Agung AS (SCOTUS) — turut menjadi sumber volatilitas sepanjang kuartal I, mengulang dinamika Liberation Day Tariffs 2025 yang sempat menekan dolar akibat kekhawatiran perang dagang global. Pada kuartal II, tema ini melunak relatif terhadap dominasi isu geopolitik dan inflasi energi, namun tetap menjadi risiko laten bagi arah dolar ke depan.
3. Transmisi ke Pasar Keuangan Indonesia
Penguatan dolar AS pada kuartal II 2026 menjadi salah satu faktor utama pelemahan Rupiah, yang bergerak dari kisaran Rp16.250 per dolar pada akhir 2025 menuju kisaran Rp17.900–18.000 pada awal Juli 2026 — pelemahan sekitar 10–11% dalam basis poin nominal untuk semester tersebut. Tekanan terhadap Rupiah diperberat oleh faktor domestik: Indonesia mencatat defisit perdagangan pertama sejak April 2020 pada Mei 2026, dengan ekspor yang tak terduga turun sementara impor tetap tumbuh dua digit, serta cadangan devisa yang tergerus ke level terendah dalam hampir dua tahun (tercatat US$146,2 miliar pada akhir April 2026).
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings turut memperingatkan bahwa arus keluar modal yang berkelanjutan dan penurunan cadangan devisa yang berkepanjangan berpotensi menekan profil kredit kedaulatan Indonesia. Di sisi lain, tekanan pelemahan Rupiah sebagian tertahan oleh arus masuk asing yang cukup tangguh ke pasar obligasi pemerintah dan Surat Berharga Bank Indonesia, harga minyak yang relatif lebih rendah pada sebagian periode yang meredakan tekanan fiskal, serta komitmen berulang Bank Indonesia untuk menggunakan seluruh instrumen kebijakan guna menstabilkan mata uang.
Bank Indonesia juga tercatat memperketat batas transaksi pembelian valuta asing sebagai langkah pengendalian tambahan, sementara inflasi domestik pada Juni mendekati batas atas target BI sebesar 1,5%–3,5%, didorong oleh harga pangan yang tinggi. Kombinasi pelemahan Rupiah, defisit dagang, dan tekanan inflasi domestik ini menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menilai ruang gerak kebijakan suku bunga Bank Indonesia pada paruh kedua 2026.
4. Outlook Kuartal III 2026 dan Implikasi Kebijakan
- Arah dolar AS pada Juli-September 2026 akan sangat bergantung pada dua hal yang saling tarik-menarik: apakah tekanan inflasi energi akibat konflik Timur Tengah dapat mereda cukup cepat, dan apakah pelemahan pasar tenaga kerja berlanjut sehingga memaksa The Fed kembali pada jalur pelonggaran.
- Konsensus bank besar (Goldman Sachs, JPMorgan, MUFG) di awal 2026 memproyeksikan DXY jatuh ke kisaran 90-an, namun proyeksi ini sebagian besar didasarkan pada asumsi pemangkasan suku bunga The Fed yang kini tertunda akibat inflasi di atas 4%. Jika inflasi energi mereda dan data ketenagakerjaan terus melemah, skenario pelonggaran kembali terbuka pada kuartal IV.
- Bagi Indonesia, kombinasi Rupiah yang lebih lemah, defisit dagang, dan cadangan devisa yang menyusut memberi ruang gerak yang lebih sempit bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat, meski inflasi domestik masih berada dalam kisaran target.
- Pelaku pasar SBN dan IHSG perlu mencermati rilis data inflasi AS (CPI/PCE), keputusan FOMC berikutnya, serta perkembangan diplomasi terkait Selat Hormuz sebagai variabel kunci penggerak arus modal jangka pendek ke pasar berkembang, termasuk Indonesia.
5. Kesimpulan
Indeks Dolar AS (DXY) Semseter 1 tahun 2026 menggambarkan betapa satu variabel — inflasi energi yang dipicu konflik geopolitik — mampu membalik seluruh narasi bearish yang sudah terbentuk. Yang awalnya tampak sebagai tahun dolar lemah berubah menjadi lompatan DXY hampir 4% dari level terendahnya. Pasar kini menatap Semester 2 tahun 2026 dengan skenario yang lebih hawkish dari yang diperhitungkan di awal tahun.







