(Vibiznews – Commodity) Harga gula di bursa komoditi berjangka New York berakhir melemah pada hari Jumat, tertekan oleh prospek cuaca yang lebih menguntungkan untuk panen di negara-negara produsen utama.
Harga gula berjangka kontrak Oktober 2026 ditutup turun menuju level 14,48 sen per pon.
Harga gula tertekan di tengah optimisme bahwa cuaca yang mulai mengering di Brasil akan mempercepat proses tebang dan giling tebu yang sebelumnya sempat tertunda oleh hujan lebat. Selain itu, perbaikan tingkat curah hujan muson di India turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan ketersediaan pasokan global dari negara produsen terbesar kedua dunia tersebut.
Sebagai faktor penahan laju penurunan harga gula, tingginya harga minyak mentah global membatasi kerugian lebih dalam. Kondisi ini membuat pabrik-pabrik gula di Brasil tetap mempertahankan opsi untuk mengalihkan lebih banyak tebu menjadi bahan bakar etanol ketimbang memproduksi gula.
Laporan terbaru dari Unica sebelumnya juga telah mengindikasikan bahwa persentase tebu yang dialokasikan untuk gula oleh pabrik-pabrik Brasil dapat tertekan jika penggilingan tebu untuk produksi etanol terus meningkat seiring dengan tren harga energi yang solid.
Selain itu, para pedagang dan analis komoditas global masih terus mencermati perkiraan neraca gula global 2026/27. Potensi defisit pasokan masih membayangi jika lonjakan harga minyak mentah baru-baru ini terus memicu pabrik-pabrik Brasil memproduksi lebih banyak etanol dibandingkan gula untuk pasar ekspor internasional.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula berpotensi bergerak dalam tekanan turun seiring dengan sentimen membaiknya cuaca panen di Brasil dan India yang meningkatkan prospek pasokan. Harga gula diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 14,25-14,05. Namun jika berbalik naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 14,75-14,90.








