Harga Minyak Sawit Selasa Ditutup Melemah Mengikuti Penurunan Harga Minyak

85
cpo sawit

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit atau CPO acuan dunia di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup kembali melemah pada perdagangan hari Selasa (28/7/2026). Penurunan ini melanjutkan tren koreksi dari sesi sebelumnya setelah komoditas andalan ini sempat bertengger di level tertinggi dalam 15 pekan terakhir.

Harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman bulan Oktober 2026 ditutup melemah sebesar 0,94% atau turun 44 ringgit ke level RM4.629 per metrik ton.

Sementara itu di pasar fisik domestik, lelang pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom dilaporkan mengalami penarikan atau withdraw (WD). Penawaran tertinggi harian tertahan di kisaran Rp15.677 per kilogram akibat adanya ketidakcocokan harga antara pihak pembeli dan penjual.

Kejatuhan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu sentimen utama yang menekan harga CPO hari ini. Munculnya ekspektasi pasar terhadap penyelesaian konflik atau gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menyeret harga minyak mentah jatuh lebih dari USD1 per barel. Minyak bumi yang lebih murah otomatis mengurangi daya tarik komersial minyak sawit sebagai bahan baku alternatif untuk konversi biodiesel di pasar internasional.

Selain itu, harga CPO juga tertekan oleh koreksi massal yang terjadi pada minyak nabati pesaing. Terpantau harga minyak kedelai di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) merosot 0,69%. Sejalan dengan itu, kontrak minyak kedelai dan minyak sawit di Bursa Dalian, Tiongkok, masing-masing terkoreksi cukup dalam hingga lebih dari 1,2%. Pelemahan komoditas substitusi ini secara langsung menekan daya saing harga minyak sawit global.

Kendati mendapat banyak tekanan eksternal, kejatuhan harga CPO yang lebih dalam berhasil dibatasi oleh katalis positif dari solidnya data volume ekspor luar negeri.

Dari sisi fundamental jangka panjang, sentimen pasar juga masih ditopang kuat oleh rencana percepatan implementasi program wajib biodiesel B50 oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan ini terus dipantau lekat oleh pelaku pasar karena diproyeksikan akan menyerap sangat banyak produksi domestik, yang pada akhirnya akan memperketat ketersediaan pasokan ekspor di masa depan.