Harga Minyak Selasa Merosot Seiring Penurunan Ketegangan Konflik Timur Tengah

60

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia jenis Brent dan WTI kembali melanjutkan kejatuhan tajam pada perdagangan pasar komoditas internasional sesi Asia hari Selasa (28/7/2026), hingga menyentuh level terendahnya dalam sepekan terakhir.

Sentimen pasar berbalik seratus delapan puluh derajat setelah pelaku pasar beramai-ramai melepas premi risiko akibat sinyal kuat de-eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Saat ini harga minyak mentah Brent berada di kisaran $86,89 hingga $87,24 per barel, merosot sekitar 1,66% hingga 2,6% dari penutupan sebelumnya. Pergerakan ini memangkas lonjakan dramatis setelah pekan lalu harga acuan global tersebut sempat menembus angka psikologis $100 per barel.

Untuk harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 2,46% dan diperdagangkan pada kisaran $80,58 per barel, melemah dari penutupan sebelumnya di $82,61 per barel. Penurunan ini membuat WTI menguji level batas dukungan yang cukup kuat di angka $80 per barel, di mana harga terendah harian sempat menyentuh $79,80 per barel.

Faktor terbesar yang memicu kejatuhan harga minyak adalah keputusan Amerika Serikat untuk menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran. Kondisi ini diperkuat setelah Presiden AS mengonfirmasi adanya perkembangan positif dalam pembicaraan diplomatik untuk meredakan ketegangan.

Pasar juga menyambut baik munculnya proposal perdamaian dari Oman yang mendapat dukungan regional untuk meredakan konflik. Proposal ini memicu optimisme bahwa jalur ekspor minyak vital global di Selat Hormuz tidak akan terblokir secara total.

Di luar faktor geopolitik kawasan Timur Tengah, lesunya permintaan energi dari negara-negara konsumen utama di Asia turut membatasi potensi pemulihan harga minyak di pasar global hari ini.

Meski harga pada bursa berjangka anjlok, analis mencatat bahwa aliran pasokan minyak fisik dari Timur Tengah sebenarnya belum pulih sepenuhnya. Volume pengapalan muatan yang melewati Selat Hormuz terpantau masih berada di bawah rata-rata volume sebelum perang, sebuah kondisi pasokan fisik yang masih ketat dan berfungsi sebagai penahan agar harga minyak tidak jatuh lebih dalam lagi.

Untuk pergerakan selanjutnya harga minyak mentah jenis Brent berjangka akan bertemu kisaran resisten di 88,50 – 90,20 dan support di 85,30 – 83,80.

Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 82,40 – 84,00 dan support di 79,50 – 78,10.