Indeks Nikkei Kamis Berakhir Menguat Terdukung Saham Teknologi dan Semikonduktor

97
nikkei

(Vibiznews – Index) Berbeda dengan pergerakan bursa regional lainnya seperti KOSPI, Indeks Nikkei Jepang berhasil ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Kamis, 30 Juli 2026. Penguatan ini sekaligus menghentikan tren penurunan (losing streak) yang telah membebani bursa Tokyo selama dua hari berturut-turut.

Indeks Nikkei 225 ditutup naik 0,71% dan berakhir pada level 61.867,43. Sepanjang sesi perdagangan, indeks mengawali langkahnya dengan dibuka pada level 61.258,34. Sempat tertekan sesaat ke level terendah harian di 61.049,70, indeks kemudian bangkit dan melesat hingga menyentuh level tertinggi harian di 62.924,84 sebelum akhirnya memangkas sebagian rentang penguatan menjelang bel penutupan. Sebagai catatan, level penutupan hari sebelumnya berada di angka 61.434,19, dengan rentang pergerakan 52 minggu di level tertinggi 72.831,73 dan terendah di 39.850,52.

Pembalikan arah Indeks Nikkei 225 ke zona hijau pada hari ini utamanya didorong oleh beberapa faktor kunci.

Faktor pertama adalah lonjakan laba dari saham sektor teknologi dan semikonduktor. Raksasa produsen alat penguji cip, Advantest, merilis proyeksi laba operasional tahunan yang melonjak 35%, sebuah angka yang berada di luar ekspektasi pasar. Sentimen positif ini membuat saham Advantest melambung 10,85% dan berhasil memicu pemulihan (rebound) massal pada saham-saham teknologi lokal lainnya, seperti Tokyo Electron yang mencatatkan kenaikan 4,3% dan Kioxia Holdings yang menguat di kisaran 2,7% hingga 2,9%.

Faktor kedua bersumber dari respons positif pelaku pasar terhadap jeda suku bunga Federal Reserve (The Fed). Keputusan bank sentral Amerika Serikat tersebut untuk menahan suku bunga acuan pada pertemuan terbarunya memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar ekuitas Jepang. Para investor merespons positif kepastian langkah ini guna meredakan kepanikan likuiditas, meskipun The Fed dipandang tetap bersikap hati-hati terhadap tekanan ekonomi.

Faktor ketiga yang turut menopang bursa Tokyo adalah divergensi kinerja pada laporan keuangan dari perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) global. Meskipun Wall Street sempat dihantam aksi jual massal pada sesi semalam, lonjakan pendapatan dari lini bisnis komputasi awan (cloud) Azure milik Microsoft yang tumbuh pesat memberikan sinyal kuat bahwa pengeluaran infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih mampu memberikan hasil margin yang riil. Sentimen positif dari rilis pendapatan tersebut berhasil mengimbangi kekhawatiran pasar global dan pada akhirnya dimanfaatkan secara optimal oleh para investor di Jepang untuk melakukan aksi borong saham-saham murah yang sedang terdiskon (bargain hunting).