Indeks Kospi Kamis Ditutup Melemah; Aksi Jual Saham Semikonduktor Berlanjut

81
kospi

(Vibiznews – Index) Bursa saham Korea Selatan ditutup melemah pada perdagangan hari Kamis, 30 Juli 2026, mencatatkan posisi terendahnya sejak awal April menyusul hilangnya momentum penguatan pada awal sesi.

Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (Kospi) ditutup turun 1,23 persen atau 69,68 poin, dan mengakhiri sesi perdagangan pada level 5.593,56. Pada perdagangan sebelumnya, indeks Kospi berada di posisi 5.663,24.

Pergerakan indeks hari ini diwarnai fluktuasi yang sangat tajam. Indeks Kospi dibuka menguat pada level 5.681,77 dan sempat melonjak menyentuh level tertinggi harian di 5.976,82 karena dorongan aksi beli teknikal. Namun, tekanan jual yang masif pada sesi sore memangkas seluruh keuntungan tersebut dan menyeret indeks berbalik arah hingga menyentuh level terendah harian di 5.547,41.

Pelemahan bursa Seoul hari ini dipicu oleh tingginya skeptisisme pasar global terhadap valuasi dan belanja modal pada sektor kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran bahwa investasi besar pada infrastruktur AI belum memberikan imbal hasil komersial yang memadai terus memicu berlanjutnya aksi jual pada saham-saham cip semikonduktor.

Kinerja laporan keuangan emiten teknologi raksasa yang bervariasi turut memberikan tekanan. Saham Samsung Electronics sempat menahan kejatuhan indeks dengan menguat tipis 0,7 persen setelah melaporkan lonjakan laba operasi pada kuartal Juni. Sebaliknya, saham SK Hynix justru anjlok 5,6 persen akibat rilis kinerja yang meleset dari ekspektasi pasar. Penurunan ini membuat saham SK Hynix terakumulasi merosot tajam 27 persen hanya dalam tiga hari terakhir.

Dari sisi regulasi, Kementerian Keuangan Korea Selatan mulai meluncurkan langkah stabilisasi darurat untuk meredam volatilitas ekstrem yang sebelumnya memicu penghentian perdagangan beruntun. Aturan baru ini membatasi eksposur maksimal produk exchange traded fund (ETF) berleverage saham tunggal sebesar 20 persen dari total aset investasi. Kebijakan pengetatan likuiditas spekulatif ini membuat pergerakan arus modal menjadi sangat dinamis dan penuh kehati-hatian.

Selain itu, sentimen pasar juga tertekan oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Keputusan mempertahankan suku bunga yang disertai perdebatan internal menciptakan kebingungan di pasar global. Kondisi ini memicu melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) ke level tertinggi, yang pada gilirannya mendorong arus penarikan modal dari pasar negara berkembang seperti Korea Selatan menuju aset yang dinilai lebih aman.