Harga Kakao Rabu Bergerak Turun Tipis Terpicu Aksi Ambil Untung

85
kakao

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global bergerak konsolidasi dengan kecenderungan mengalami koreksi teknikal pada perdagangan hari Rabu, 5 Agustus 2026, setelah sebelumnya mencetak reli ekstrem yang cukup masif dalam beberapa sesi terakhir.

Kontrak kakao acuan dunia di ICE US (CC) terpantau diperdagangkan di kisaran level 6.089 dolar AS per metrik ton, mencatatkan koreksi tipis sekitar 0,76 persen dalam 24 jam terakhir. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, pergerakan harga bergerak dalam rentang harian antara level terendah 5.816 dolar AS hingga level tertinggi 6.107 dolar AS per metrik ton. Koreksi yang terjadi hari ini merupakan aksi ambil untung wajar setelah harga kakao sempat melonjak tajam hingga lebih dari 15 persen hanya dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya, sehingga sempat membawa harga menyentuh level tertinggi dalam sekitar tiga minggu terakhir.

Faktor fundamental yang tetap menjadi pendorong utama tren bullish jangka menengah kakao dunia adalah proyeksi suram terkait pasokan dari Ghana, produsen kakao terbesar kedua di dunia. Badan regulator kakao Ghana, COCOBOD, kembali menegaskan proyeksi anjloknya produksi pada musim 2026/2027 setidaknya 16 persen menjadi hanya berkisar 450.000 hingga 550.000 metrik ton. Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi sejumlah persoalan struktural di sektor perkebunan, mulai dari penyebaran penyakit pucuk membengkak atau swollen shoot disease, kondisi perkebunan yang menua, hingga maraknya aktivitas penambangan emas ilegal yang terus menggerus lahan pertanian kakao.

Gangguan rantai pasok turut diperparah oleh dampak cuaca ekstrem akibat sisa fenomena iklim El Nino yang melanda kawasan Pantai Gading, produsen kakao terbesar dunia. Kombinasi cuaca buruk dan serangan hama di sentra produksi utama tersebut menjadi katalis yang mendorong pasar global tetap mempertahankan premi risiko yang tinggi terhadap harga kakao, meski secara teknikal pasar tengah memasuki fase jenuh beli.

Dari sisi teknikal, pergerakan harga kakao dunia saat ini berada kokoh di atas rata-rata pergerakan MA-20 di level 5.650 dolar AS dan MA-50 di level 5.480 dolar AS, sebuah formasi yang mengonfirmasi struktur tren naik jangka menengah masih cukup solid. Namun demikian, indikator Relative Strength Index (RSI-14) yang berada di level 64,20 serta persilangan turun (dead cross) pada indikator Stochastic Oscillator di area jenuh beli level 82 memberikan sinyal awal potensi tekanan koreksi jangka pendek dalam satu hingga dua sesi perdagangan ke depan.

Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, lonjakan harga acuan dunia turut direspons cepat oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Pemerintah menetapkan Harga Referensi biji kakao periode bulan Agustus 2026 naik tajam sebesar 36,66 persen menjadi 5.424,96 dolar AS per metrik ton. Sejalan dengan penyesuaian tersebut, Harga Patokan Ekspor biji kakao turut terkerek naik ke level 5.064 dolar AS per metrik ton, yang berimplikasi pada pengenaan tarif Bea Keluar sebesar 7,5 persen bagi para eksportir biji kakao domestik.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao dunia pada perdagangan berikutnya masih akan diwarnai konsolidasi di tengah pertarungan antara fundamental pasokan yang defisit dengan kondisi teknikal yang jenuh beli. Apabila tekanan aksi ambil untung berlanjut, harga kakao berpotensi menguji kisaran support di 5.816 hingga 5.700 dolar AS per metrik ton, dengan area kritis pola pembalikan arah berada di kisaran 5.670 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila aksi beli kembali bergolak merespons kekhawatiran pasokan Afrika Barat, harga berpotensi menguji kisaran resistance di 6.100 hingga 6.150 dolar AS per metrik ton, dengan target reli lanjutan berada di area 6.250 dolar AS per metrik ton.