Rekomendasi Harga Kakao 7 Agustus 2026 : Tarik Menarik Sentimen Pasokan

52

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York ditutup melemah tipis pada perdagangan hari Kamis, 6 Agustus 2026, tertekan oleh aksi ambil untung investor di tengah perbaikan sementara cuaca di kawasan penghasil utama Afrika Barat.

Kontrak kakao acuan dunia di ICE New York terpantau ditutup melemah ke kisaran level 5.723 dolar AS per metrik ton, mencatatkan koreksi teknikal sekitar 1,80 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Meskipun mengalami tekanan jual pada perdagangan hari ini, secara keseluruhan posisi harga kakao masih bertahan mendekati level tertinggi bulanan, mencerminkan bahwa kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan jangka panjang belum sepenuhnya mereda.

Koreksi harga hari ini utamanya didorong oleh aksi jual teknikal yang mendominasi lantai bursa. Setelah sempat mengalami pemulihan tajam dalam beberapa hari perdagangan sebelumnya, investor mulai melakukan aksi ambil untung disertai pemicuan order stop-loss, seiring dengan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang turut membebani daya tarik komoditas kakao. Tekanan jual ini semakin diperkuat oleh laporan perbaikan cuaca jangka pendek di kawasan Pantai Gading dan Ghana, di mana turunnya hujan secara intermiten meredakan kecemasan pasar atas kondisi tanaman kakao untuk periode pengiriman terdekat.

Dari sisi pasokan fisik, harga kakao turut tertekan oleh melonjaknya stok kakao bersertifikat di gudang ICE yang tercatat menembus level tertinggi dalam dua tahun terakhir, mencapai lebih dari 3,38 juta kantong. Kondisi ini semakin diperberat oleh laporan Ghana yang mencatatkan kenaikan hasil panen musim 2025/2026 sebesar 25,6 persen, sehingga menambah tekanan bearish bagi pasar jangka pendek.

Meski demikian, laju koreksi harga tertahan oleh sentimen jangka panjang yang tetap mengkhawatirkan pasar. Badan regulator kakao Ghana, COCOBOD, tetap mempertahankan proyeksi penurunan produksi sebesar 16 persen untuk musim 2026/2027 akibat kombinasi penyakit tanaman, kondisi perkebunan yang menua, serta aktivitas penambangan ilegal. Kekhawatiran serupa juga membayangi Pantai Gading, produsen kakao terbesar dunia, yang diperkirakan akan mengalami penurunan produksi lebih dari 10 persen pada musim mendatang.

Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, dinamika fluktuasi harga internasional turut direspons oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dengan menaikkan Harga Referensi ekspor biji kakao periode Agustus 2026 sebesar 39 persen. Kebijakan ini merupakan langkah antisipasi pemerintah merespons dampak lanjutan fenomena cuaca buruk global akibat El Nino serta gangguan pasokan yang membuat harga bahan baku industri domestik tetap berada pada level premium.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan awal pekan selanjutnya masih akan diwarnai konsolidasi dengan volatilitas tinggi, di tengah pertarungan antara tekanan jual teknikal jangka pendek dan kekhawatiran defisit pasokan jangka panjang. Harga kakao berpotensi menguji kisaran support di 5.700 hingga 5.600 dolar AS per metrik ton apabila tekanan jual berlanjut. Namun, apabila sentimen defisit musim depan kembali mendominasi pasar, harga berpotensi rebound menguji kisaran resistance di 5.900 hingga 6.000 dolar AS per metrik ton.