(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS bergerak turun ke level terendah dalam 7 minggu dan ditutup melemah pada akhir pekan hari Jumat, setelah data Non Farm Payrolls AS bulan Juli menunjukkan penurunan tak terduga dan kenaikan rata-rata upah per jam yang lebih rendah dari perkiraan.
Selain itu, reli pasar saham pada hari Jumat mengurangi permintaan likuiditas dalam bentuk dolar.
Data ketenagakerjaan tersebut menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan FOMC bulan depan menjadi 44%, turun dari 58% sebelum laporan dirilis.
Jumlah pekerja sektor non-pertanian AS bulan Juli secara tak terduga turun sebesar 23.000, lebih lemah dari perkiraan kenaikan 80.000 dan merupakan penurunan pertama dalam 5 bulan. Angka ketenagakerjaan bulan Juni direvisi turun menjadi kenaikan 20.000 dari angka +57.000 yang dilaporkan sebelumnya.
Tingkat pengangguran bulan Juli secara tak terduga turun 0,1 poin ke level terendah dalam 13 bulan di angka 4,1%, menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dibandingkan perkiraan yang memprediksi angka tetap di 4,2%.
Rata-rata upah per jam AS bulan Juli naik +0,1% secara bulanan (*m/m*) dan +3,2% secara tahunan (*y/y*), lebih lemah dari perkiraan kenaikan +0,3% *m/m* dan +3,5% *y/y*.
Dolar mendapat sedikit dukungan dari komentar Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, pada Kamis malam. Ia menyatakan bahwa para pembuat kebijakan tidak bisa menoleransi inflasi yang lebih tinggi dan menegaskan bahwa “sangat penting bagi kebijakan moneter untuk memberikan pengetatan yang berarti terhadap inflasi inti, alih-alih menoleransi inflasi yang agak lebih tinggi saat ini demi mengejar pertumbuhan produktivitas di masa depan.”
Pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 44% untuk kenaikan suku bunga sebesar +25 basis poin (bp) pada pertemuan FOMC berikutnya tanggal 15-16 September.
Namun dolar AS masih mendapat dukungan dengan ketidakpastian pembicaraan AS-Iran terkait Selat Hormuz.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyatakan bahwa pembukaan kembali selat tersebut mengharuskan Washington untuk mencabut blokade angkatan laut dan sanksi, menarik pasukan militer AS dari kawasan tersebut, membayar ganti rugi perang, serta mencairkan aset Iran yang dibekukan.
Dewan tersebut juga menyerukan penghentian serangan AS terhadap sekutu regional Iran serta penghentian ancaman terhadap Iran, menurut laporan tersebut.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengisyaratkan pada hari Minggu bahwa ia bersedia membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus dibandingkan memerintahkan serangan militer baru, meskipun Teheran terus menentang Washington.
“Kami menanganinya dengan tenang,” ujar Trump kepada Axios dalam sebuah percakapan telepon. “Kami hanya melakukan negosiasi setengah jalan dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki dana.”
Ia mengatakan kondisi ekonomi Iran “sangat buruk” dan negara itu kekurangan dana untuk membayar pasukannya, seraya menambahkan bahwa blokade angkatan laut AS telah memperparah masalah ekonomi rezim tersebut.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS akan bergerak naik dengan ketidakpastian pembicaraan AS dan Iran masih memicu sentimen ketegangan kedua negara yang meningkatkan permintaan safe haven dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 99,88-100,23. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 99,29-99,05.








