Ketika Ekonomi Tumbuh, Pasar Belum Tentu Percaya

60
Indonesia

(Vibiznews-Kolom) Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada kuartal II memberikan kabar yang secara statistik cukup menggembirakan. Angka itu berada di atas konsensus pasar sebesar 5,1%, sementara inflasi tercatat 2,8% dan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kembali masuk zona ekspansi pada level 50,2 dari sebelumnya 46,9. Secara sederhana, tiga indikator tersebut memberikan sinyal bahwa ekonomi Indonesia masih bergerak positif.

Namun, bagi pelaku pasar, angka ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Seorang trader valuta asing, saham, maupun komoditas tidak hanya bertanya apakah pertumbuhan ekonomi mencapai 5,29%. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang ada di balik angka tersebut, apakah pertumbuhan itu berkelanjutan, dan bagaimana implikasinya terhadap harga aset?

Di sinilah muncul persoalan yang menarik. Ketika pertumbuhan ekonomi masih berada di atas 5%, rupiah tetap berada di bawah tekanan, investor asing masih melakukan net selling di pasar saham, sementara Bank Indonesia harus aktif memasok dolar ke pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Artinya, pasar sedang membaca sesuatu yang tidak seluruhnya tercermin dalam angka pertumbuhan. Bagi trader, justru perbedaan antara headline number dan kondisi di balik angka itulah yang menentukan posisi.

Pertumbuhan 5,29% dan Pertanyaan tentang Kualitas

Pertumbuhan 5,29% memang bukan angka buruk. Bahkan, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Semester pertama tahun ini mencatat pertumbuhan sekitar 5,45%. Tetapi pertanyaan yang lebih fundamental adalah apakah pertumbuhan tersebut berkualitas dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Salah satu perhatian yang muncul adalah dominannya konsumsi rumah tangga. Konsumsi tumbuh sekitar 5,06%, tetapi terdapat kekhawatiran bahwa sebagian dorongan konsumsi berasal dari peningkatan utang rumah tangga. Jika masyarakat semakin banyak membiayai konsumsi melalui pinjaman, maka pertumbuhan hari ini berpotensi menciptakan persoalan bagi konsumsi di masa depan.

Bagi pasar, ini penting. Konsumsi yang meningkat karena pendapatan dan produktivitas memberikan sinyal berbeda dengan konsumsi yang meningkat karena utang. Keduanya sama-sama tercatat sebagai pertumbuhan, tetapi implikasinya terhadap keberlanjutan ekonomi berbeda.

Trader akan melihat persoalan tersebut bukan hanya dari laporan PDB, tetapi juga dari perilaku rupiah, saham sektor konsumsi, kredit, imbal hasil obligasi, hingga ekspektasi kebijakan moneter. Ada pertanyaan lain yang lebih besar, jika Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi, mengapa ekonomi terus berada di sekitar level 5%?

Selama era sebelum krisis 1997-1998, pertumbuhan Indonesia pernah berada di sekitar 6,5% secara rata-rata. Setelah memasuki era demokrasi, rata-rata pertumbuhan berada jauh lebih rendah, sekitar 5%, dengan periode pandemi ikut memengaruhi angka tersebut. Perbedaan itu menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar apakah ekonomi masih tumbuh, tetapi mengapa kemampuan ekonomi untuk tumbuh lebih cepat tampaknya melemah.

Ketika Komoditas Menjadi Penopang

Pasar juga akan melihat dari mana pertumbuhan tersebut berasal. Ekspor Indonesia masih sangat dipengaruhi komoditas, salah satunya minyak sawit atau CPO. Ketika harga komoditas tinggi, Indonesia mendapatkan keuntungan besar. Tetapi ketergantungan terhadap komoditas membawa risiko tersendiri karena harga komoditas bergerak mengikuti siklus global.

Ketika harga naik, pendapatan ekspor meningkat, rupiah mendapatkan dukungan, penerimaan negara membaik dan aktivitas ekonomi ikut terdorong. Namun ketika harga komoditas turun, mekanismenya dapat berbalik.

Inilah yang membuat terms of trade menjadi penting. Ekonomi dapat tetap tumbuh, tetapi apabila pertumbuhan terlalu bergantung pada komoditas, kemampuan masyarakat untuk menikmati peningkatan pendapatan secara berkelanjutan menjadi lebih terbatas.

Bagi trader komoditas, situasi seperti ini sangat mudah dipahami. Harga CPO, batu bara, minyak, dan komoditas lainnya tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik Indonesia. Harga tersebut dipengaruhi permintaan global, geopolitik, kebijakan negara besar, suku bunga, nilai dolar, serta gangguan pasokan.

Karena itu, ekonomi yang terlalu bergantung pada komoditas menghadapi risiko boom and bust. Ketika harga komoditas naik, pertumbuhan terlihat sangat kuat. Ketika harga jatuh, fondasi pertumbuhan ikut melemah.

Indonesia pernah merasakan manfaat besar dari commodity supercycle. Pertumbuhan ekonomi pernah mendekati 6% ketika harga berbagai komoditas melonjak. Tetapi pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa komoditas tidak cukup menjadi mesin utama untuk membawa ekonomi menuju tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

Investasi Mulai Menarik Perhatian

Di tengah berbagai persoalan tersebut, terdapat satu angka yang memberikan harapan: pertumbuhan Gross Fixed Capital Formation atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 6,87% pada kuartal II. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,96% pada kuartal I dan sekitar 6,12% pada kuartal IV tahun sebelumnya.

Bagi pasar, investasi jauh lebih menarik daripada sekadar melihat pertumbuhan konsumsi.Investasi berarti kapasitas produksi baru. Investasi berarti pabrik, mesin, teknologi, infrastruktur dan kapasitas bisnis yang dapat menghasilkan pendapatan pada masa mendatang. Jika investasi benar-benar meningkat secara struktural, pertumbuhan ekonomi memiliki peluang untuk bergerak ke tingkat yang lebih tinggi.

Namun, sekali lagi, angka pertumbuhan investasi saja belum cukup.Proporsi investasi terhadap PDB juga harus diperhatikan. Dalam data yang dibicarakan, proporsi tersebut sekitar 29,3%. Angka itu menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan peran investasi sebagai mesin pertumbuhan.

China pernah memiliki rasio investasi yang mendekati 50%. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa transformasi ekonomi membutuhkan investasi dalam skala besar dan berkelanjutan.

Bagi trader saham, pertanyaan berikutnya adalah ke mana investasi tersebut mengalir. Apakah masuk ke manufaktur berteknologi tinggi? Apakah menciptakan lapangan kerja produktif? Apakah meningkatkan ekspor produk bernilai tambah? Atau hanya masuk ke sektor yang berbasis sumber daya alam?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah kenaikan PMTB benar-benar menciptakan new growth engine atau sekadar mengulang pola lama.

Rupiah Memberikan Sinyal Berbeda

Di pasar valuta asing, indikator yang paling menarik justru adalah rupiah.Pertumbuhan 5,29% seharusnya memberikan sentimen positif. Inflasi juga relatif terkendali. PMI sudah kembali ke zona ekspansi. Tetapi rupiah masih berada di bawah tekanan.

Bahkan, volatilitas nilai tukar menunjukkan bahwa Bank Indonesia aktif berada di pasar untuk menyediakan dolar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar.Bagi trader, kondisi seperti ini merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan.

Jika fundamental domestik terlihat cukup baik tetapi mata uang tetap tertekan, berarti ada faktor lain yang sedang bekerja. Faktor tersebut dapat berasal dari arus modal, kebutuhan dolar korporasi, sentimen terhadap kebijakan moneter, kondisi pasar global, maupun persepsi investor terhadap risiko institusional.

Hal yang sama terlihat di pasar saham. Indeks harga saham gabungan berada di sekitar 6.400, tetapi investor asing masih melakukan penjualan bersih. Artinya, pasar saham juga belum sepenuhnya menerjemahkan pertumbuhan ekonomi 5,29% sebagai alasan untuk meningkatkan eksposur terhadap aset Indonesia.

Inilah yang disebut meta numbers, sesuatu yang tidak langsung terlihat dari angka PDB, tetapi dapat dibaca dari perilaku harga aset.Trader tidak hanya membaca data ekonomi. Trader membaca reaksi pasar terhadap data ekonomi.

Jika data bagus tetapi rupiah melemah, pertanyaan berikutnya adalah mengapa. Jika pertumbuhan tinggi tetapi asing menjual saham, pertanyaannya juga mengapa.

Independensi Bank Sentral Menjadi Harga yang Harus Dibayar

Dalam perspektif pasar, salah satu faktor terpenting untuk rupiah adalah kredibilitas Bank Indonesia.Pasar tidak hanya membutuhkan bank sentral yang independen secara hukum. Pasar membutuhkan keyakinan bahwa independensi tersebut juga berjalan secara nyata.

Investor akan memperhatikan apakah Bank Indonesia tetap memiliki ruang untuk menentukan kebijakan moneter berdasarkan kebutuhan stabilitas ekonomi dan nilai tukar, atau justru semakin menjadi bagian dari kebutuhan pembiayaan pemerintah.Ini bukan persoalan kecil.

Jika pasar mulai percaya bahwa bank sentral kehilangan independensinya, premi risiko dapat meningkat. Investor akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang aset domestik. Tekanan terhadap rupiah dapat meningkat, dan ekspektasi inflasi juga dapat berubah.

Karena itu, isu mengenai siapa yang memimpin Bank Indonesia bukan hanya persoalan politik atau administratif. Bagi trader, itu adalah persoalan harga.Pasar akan melihat siapa pun yang menjadi pemimpin Bank Indonesia berikutnya dari satu pertanyaan sederhana: apakah institusinya tetap kredibel?

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa ketika bank sentral kehilangan kredibilitas, dampaknya dapat langsung terasa pada mata uang dan inflasi. Karena itu, independensi bank sentral merupakan bagian dari pricing mechanism di pasar valuta asing.

Risiko Minyak dan Geopolitik

Ada faktor lain yang tidak boleh dilupakan, harga minyak.Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat membuat harga minyak bergerak cepat. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berarti risiko tambahan terhadap neraca perdagangan, subsidi energi, inflasi dan kebutuhan valuta asing.

Bagi trader, geopolitik adalah salah satu sumber volatilitas terbesar karena sulit diprediksi melalui model ekonomi konvensional.Satu pernyataan pemimpin negara besar dapat mengubah ekspektasi pasar dalam hitungan menit. Kebijakan tarif, konflik geopolitik, ancaman perang, atau perubahan hubungan antarnegara dapat mengubah harga minyak, dolar, obligasi, emas dan saham secara bersamaan.

Karena itu, trader tidak dapat hanya membaca data domestik.Ketika rupiah bergerak, yang dibaca bukan hanya Indonesia. Yang dibaca adalah dolar Amerika, Treasury, harga minyak, kebijakan bank sentral global, arus modal dan geopolitik.

Masalah Indonesia Bukan Sekadar Pertumbuhan

Persoalan Indonesia bukan bagaimana mempertahankan pertumbuhan 5%. Tantangannya adalah bagaimana keluar dari keseimbangan pertumbuhan sekitar 5% menuju tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Kuncinya berada pada produktivitas, teknologi, kualitas tenaga kerja, investasi dan institusi.Model pertumbuhan sederhana menunjukkan bahwa penambahan modal saja pada akhirnya menghadapi diminishing returns. Ketika kapital terus ditambah tanpa inovasi dan teknologi, tambahan output yang dihasilkan akan semakin kecil.

Karena itu, Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas. Tenaga kerja murah tidak bisa selamanya menjadi keunggulan. Industri yang hanya mengandalkan biaya tenaga kerja rendah akan menghadapi kompetisi dari negara lain yang menawarkan biaya lebih murah.

Vietnam, misalnya, mulai semakin selektif terhadap investasi asing dengan mempertimbangkan transfer teknologi. Logikanya sederhana: FDI bukan hanya tentang berapa banyak modal yang masuk, tetapi apa yang dibawa oleh modal tersebut.Jika investasi membawa teknologi, keterampilan, jaringan produksi dan produktivitas, dampaknya jauh lebih besar terhadap pertumbuhan.

Institusi Adalah Variabel yang Dibaca Pasar

Di sinilah persoalan institusi menjadi sangat penting.Investor mampu menanggung risiko bisnis. Risiko merupakan bagian dari kehidupan mereka. Yang sulit ditanggung adalah ketidakpastian mengenai aturan permainan.

Investor dapat menerima bahwa harga komoditas turun. Mereka dapat menerima bahwa nilai tukar berfluktuasi. Mereka dapat menerima bahwa permintaan pasar berubah.Tetapi investor akan berpikir dua kali jika aturan berubah tiba-tiba, izin tidak jelas, birokrasi berbelit, kepastian kepemilikan lemah, atau kebijakan pemerintah sulit diprediksi.

Karena itu, rule of law, kualitas regulasi, efektivitas pemerintah, akuntabilitas, stabilitas dan pengendalian korupsi bukan sekadar konsep akademik. Semua itu pada akhirnya masuk ke dalam harga aset.

Semakin buruk kualitas institusi, semakin tinggi risk premium yang diminta investor.Sebaliknya, semakin kredibel institusi, semakin rendah risiko yang harus dibayar investor. Biaya modal turun, investasi meningkat, dan perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk melakukan ekspansi.Inilah alasan mengapa reformasi birokrasi, penyederhanaan regulasi dan penguatan property rights sebenarnya merupakan kebijakan ekonomi.

Pasar Menginginkan Kepastian

Dari sudut pandang trader, ekonomi Indonesia saat ini memberikan gambaran yang menarik. Angka makro terlihat cukup baik: pertumbuhan 5,29%, inflasi 2,8%, PMI kembali ekspansif dan investasi tumbuh 6,87%.

Namun harga aset mengatakan bahwa pasar masih memiliki pertanyaan.Mengapa rupiah masih tertekan? Mengapa investor asing masih menjual saham? Seberapa berkelanjutan konsumsi yang ditopang kredit? Apakah investasi benar-benar menciptakan kapasitas produksi baru? Apakah ketergantungan terhadap komoditas masih terlalu besar? Dan yang paling penting, apakah institusi ekonomi Indonesia cukup kuat untuk memberikan kepastian kepada investor?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar apakah pertumbuhan ekonomi berada di atas atau di bawah konsensus.Bagi trader, pasar selalu berbicara melalui harga. Rupiah berbicara melalui volatilitasnya. Saham berbicara melalui arus modal. Obligasi berbicara melalui imbal hasil. Komoditas berbicara melalui perubahan harga global.Semua harga itu pada dasarnya sedang memberikan satu pesan yang sama: angka pertumbuhan memang penting, tetapi kepercayaan jauh lebih penting.

Indonesia tidak kekurangan potensi untuk tumbuh lebih tinggi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi produktivitas, investasi, teknologi, lapangan kerja berkualitas dan institusi yang kredibel. Jika itu berhasil dilakukan, pertumbuhan 5% bukan lagi menjadi batas yang harus dipertahankan, melainkan titik awal untuk menuju tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Tetapi jika reformasi produktivitas dan institusi tidak bergerak, ekonomi dapat terus berada dalam keseimbangan yang sama: tumbuh sekitar 5%, sesekali mendapatkan dorongan dari komoditas, konsumsi tetap menjadi mesin utama, sementara rupiah dan pasar saham terus meminta bukti bahwa pertumbuhan tersebut benar-benar memiliki fondasi yang kuat.