(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah bergerak naik mencapai level tertinggi dalam tiga minggu pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, seiring kebuntuan negosiasi AS dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz yang membatasi pasokan minyak mentah.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS kontrak September 2026 bergerak naik 1,50% pada $85,77 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent bergerak naik 1,06% pada $91,83 per barel.
Harga minyak mentah naik hari ini setelah sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal saat keluar dari Selat Hormuz.
Selain itu, kantor berita Iran, Fars, melaporkan bahwa sebuah kapal tanker milik perusahaan UEA ditahan oleh Iran di selat tersebut, dengan pernyataan bahwa kapal-kapal harus membayar biaya untuk melintasi Hormuz.
Pada hari Senin, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang perjanjian dengan Iran yang akan segera berakhir, sehingga meredupkan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Selain itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa AS mengambil pendekatan jangka panjang terhadap Iran, yang mengisyaratkan tidak adanya rencana AS untuk meredakan konflik, sehingga berpotensi membatasi pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak dapat bergerak naik terpicu ketidakpastian negosiasi AS-Iran membuat ketegangan terjadi di Selat Hormuz yang menghambat distribusi dan pasokan minyak.
Harga minyak mentah berjangka AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $86,28-$86,80. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $84,91-$84,06.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $92,34-$92,85. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $90,98-$90,13.








