(Vibiznews – Commodity) Harga kontrak berjangka kopi arabika di bursa Intercontinental Exchange New York bergerak mengalami koreksi teknikal yang sehat pada perdagangan hari Kamis, 20 Agustus 2026. Koreksi ini terjadi setelah komoditas kafein tersebut sempat mencetak reli lonjakan masif pada sesi-sesi perdagangan sebelumnya.
Pergerakan harga kopi arabika hari ini terpantau berada di kisaran 359,15 hingga 363,40 sen dolar AS per pon. Pada sesi perdagangan sebelumnya, Rabu, 19 Agustus 2026, pasar arabika sempat menunjukkan volatilitas tinggi dengan kontrak New York untuk pengiriman September 2026 sempat melesat signifikan hingga 5,30 persen ke level 363,40 sen dolar AS per pon pada puncak sesi, bahkan sempat menyentuh harga tertinggi harian di posisi 369,20 sen dolar AS per pon. Namun menjelang akhir sesi, harga spot akhirnya ditutup sedikit melorot ke level 359,15 sen dolar AS per pon, seiring aksi ambil untung yang terjadi setelah komoditas ini mencatatkan reli akumulatif hampir 31 sen sepanjang tiga hari perdagangan berturut-turut.
Tekanan turun pada harga hari ini utamanya dipicu oleh percepatan panen di Brasil akibat cuaca kering di wilayah perkebunan. Koperasi utama Cooxupe melaporkan bahwa progres panen kopi per 14 Agustus telah mencapai 81,1 persen, naik 7 poin dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi langit yang cerah mempermudah para petani untuk mempercepat penyelesaian panen musim dingin, yang pada gilirannya turut meningkatkan pasokan fisik jangka pendek ke pasar global.
Meski demikian, penurunan harga kopi arabika hari ini tertahan oleh fundamental stok yang masih sangat tipis. Persediaan kopi arabika yang terdaftar di bursa ICE masih tertahan di level terendah dalam 2,75 tahun terakhir, yakni hanya sebesar 236.430 kantong. Ketatnya cadangan fisik yang siap serah ini terus menjadi faktor penahan kuat bagi pergerakan harga komoditas di pasar global.
Selain itu, sentimen jangka panjang turut dibayangi oleh kekhawatiran terhadap ancaman fenomena Super El Nino pada tahun 2027. Meskipun pasokan dari hasil panen saat ini mulai membanjiri pasar, para pelaku komoditas jangka panjang masih mewaspadai potensi efek buruk dari cuaca ekstrem tersebut terhadap fase pertumbuhan awal untuk musim tanam Brasil tahun 2027 mendatang.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kopi arabika ke depan masih akan diwarnai oleh tarik-menarik antara percepatan pasokan dari panen Brasil yang menekan harga, melawan ketatnya stok fisik di gudang bursa ICE serta kekhawatiran cuaca jangka panjang yang menopang harga, sehingga harga arabika berpotensi bergerak konsolidatif dalam waktu dekat.








