Rekomendasi Harga Gula 21 Agustus 2026 : Naik Terpicu Krisis Pasokan Global

42

(Vibiznews – Commodity) Harga kontrak berjangka gula dunia kembali melanjutkan reli dan bertahan di area tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir pada perdagangan hari Jumat, tertopang oleh parahnya krisis pasokan global akibat berkurangnya volume panen tebu yang terhantam kekeringan ekstrem El Nino sehingga mendorong pelaku pasar melakukan aksi akumulasi secara masif.

Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar NY-11 di bursa ICE New York terpantau diperdagangkan kokoh pada kisaran 17,49 hingga 17,56 sen dolar AS per pon. Harga kontrak ini mencatatkan lonjakan tajam sebesar 18,36 persen dalam sebulan terakhir dan kini mendekati batas tertinggi barunya. Sejalan dengan pergerakan di bursa New York, harga gula putih refinasi berjangka kontrak acuan di bursa London atau white sugar #5 juga melonjak signifikan sebesar 2,38 persen pada pembukaan sesi perdagangan terbaru.

Sentimen utama yang menggerakkan pasar gula hari ini datang dari kebijakan darurat India yang mengizinkan impor bebas bea masuk. Pemerintah India baru saja mengumumkan langkah historis dengan mengizinkan impor bebas bea masuk sebesar 1 juta metrik ton gula mentah hingga 31 Oktober 2026. Keputusan krusial ini diambil setelah harga grosir domestik India meroket hingga 40 persen dalam dua bulan ke level tertinggi sepanjang sejarah akibat penurunan panen tebu lokal. Kebijakan impor perdana India dalam hampir satu dekade ini mengonfirmasi kepada pasar bahwa pasokan global saat ini sedang sangat ketat.

Selain itu, pembatasan ketat stok korporasi turut memanaskan pasar. Guna menahan laju inflasi domestik menjelang musim festival, Kementerian Urusan Konsumen India memberlakukan aturan pembatasan simpanan stok gula selama 15 hari bagi konsumen korporasi skala besar. Langkah pengetatan ini memicu kepanikan beli di pasar berjangka internasional yang mendorong rekor minat terbuka dagang atau open interest gula di bursa ICE melampaui level tertingginya sejak 2010.

Faktor lain yang turut menekan pasokan global adalah diversifikasi produksi menjadi etanol di Amerika Selatan. Produsen tebu utama dunia seperti Brasil terus mengalihkan sebagian porsi pemrosesan tebu mereka untuk diolah menjadi bahan bakar etanol alih-alih kristal gula mentah. Pilihan ini diambil karena insentif harga jual etanol global saat ini dinilai lebih menguntungkan, sehingga mengurangi sisa alokasi stok ekspor gula komersial ke pasar dunia.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah masih berpotensi melanjutkan tren penguatan seiring belum meredanya sentimen krisis pasokan global dan tingginya aktivitas akumulasi di pasar berjangka. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Resistance 17,70-17,90. Namun, jika muncul aksi ambil untung dari para pedagang setelah reli panjang yang membawa harga bertahan di level tertinggi dalam lebih dari setahun, pergerakan berpotensi terkoreksi menuju kisaran Support 17,30-17,15.