(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York ditutup bertahan kuat di atas level psikologis 5.900 dolar AS pada perdagangan hari Jumat, 21 Agustus 2026, mencatatkan reli bulanan sebesar 7,22 persen akibat kekhawatiran pasar yang semakin mendalam terhadap penurunan produksi di kawasan Afrika Barat.
Kontrak kakao acuan dunia di ICE New York untuk penyerahan bulan Desember 2026 diperdagangkan dalam rentang harian antara 5.913,50 hingga 6.157,50 dolar AS per metrik ton, sebelum akhirnya ditutup stabil di level 6.012,00 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, kontrak kakao di bursa London turut bergerak kokoh dalam rentang harian antara 4.145,00 hingga 4.332,00 poundsterling per ton. Penguatan yang terjadi hari ini berhasil membawa harga kembali menembus area resistance di atas level 5.900 dolar AS per ton, setelah sempat mengalami koreksi pada awal musim panas lalu.
Faktor utama yang mendorong penguatan harga kakao datang dari pemangkasan estimasi hasil panen Ghana sebesar 13 persen. Dewan Kakao Ghana atau COCOBOD secara resmi merilis hasil survei lapangan terbaru yang memproyeksikan produksi kakao Ghana untuk musim 2026/2027 merosot menjadi 650.000 metrik ton, turun dibandingkan produksi tahun lalu yang sebesar 750.000 metrik ton. Penurunan tajam dari produsen terbesar kedua dunia ini memicu kepanikan baru di kalangan pelaku pasar industri cokelat global.
Kekhawatiran pasar turut diperberat oleh ancaman ganda fenomena El Nino terhadap siklus tanam baru. Meskipun pasokan sempat membaik pada awal musim 2025/2026, para pedagang kini mengalihkan fokus pada risiko siklus cuaca ekstrem untuk musim 2026/2027. Penguatan intensitas El Nino saat ini berisiko menunda datangnya curah hujan dan memperpanjang musim kering di Pantai Gading dan Ghana, kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan awal buah kakao muda atau cherelle. Di sisi lain, cuaca yang terlalu basah di Ekuador sebagai produsen utama Amerika Selatan turut memicu risiko penyebaran penyakit busuk buah.
Dari sisi neraca pasokan global, lembaga riset komoditas Hedgepoint Global Markets memangkas proyeksi surplus kakao global mereka hingga 66 persen. Bahkan, broker komoditas besar seperti StoneX memperkirakan neraca pasokan dunia akan bergeser mendekati area defisit ketat dengan sisa surplus hanya sekitar 25.000 ton, membuat harga menjadi sangat sensitif terhadap gangguan pasokan sekecil apapun.
Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, pengetatan pasokan global turut direspons oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dengan menaikkan Harga Referensi biji kakao untuk periode Agustus 2026 sebesar 36,66 persen menjadi 5.424,96 dolar AS per metrik ton. Penyesuaian ini secara otomatis turut mengerek tarif Bea Keluar dan Pungutan Ekspor menjadi masing-masing sebesar 7,5 persen. Sebagai salah satu hub pengolahan kakao terbesar di kawasan Asia dan berada di peringkat ketiga dunia, industri pengolahan cokelat domestik di Indonesia kini menghadapi lonjakan harga bahan baku biji kakao lokal yang mengikuti harga ekspor parity, sebuah kondisi yang berpotensi mengerek harga produk cokelat olahan di tingkat konsumen dalam beberapa bulan mendatang.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan awal pekan selanjutnya masih berpotensi melanjutkan tren penguatan di tengah memburuknya prospek pasokan Afrika Barat dan menipisnya surplus global. Apabila momentum beli berlanjut, harga kakao berpotensi menguji kisaran resistance di 6.157 hingga 6.250 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila terjadi aksi ambil untung mengingat kenaikan yang telah berlangsung, harga berpotensi terkoreksi menguji kisaran support di 5.913 hingga 5.800 dolar AS per metrik ton.








