Vibiznews – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026), setelah Presiden AS Donald Trump membantah rumor pelonggaran sanksi terhadap Iran. Pernyataan itu meredam harapan pasar akan kesepakatan damai cepat dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Harga Minyak Kembali Naik
Minyak Brent naik 1,11% ke US$103,73 per barel. Minyak WTI menguat tipis 0,38% ke US$89,72 per barel. Sepanjang September, Brent melonjak sekitar 14%, kenaikan bulanan terbesar sejak Juli. WTI naik sekitar 4% pada periode yang sama.
Penguatan ini terjadi setelah harga sempat melemah pada sesi sebelumnya, ketika sebagian pasokan Timur Tengah mulai pulih.
Bantahan Trump Redam Ekspektasi Damai
Pemicu utamanya adalah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat senior AS. Laporan itu menyebut pemerintahan Trump bersedia memberi insentif berupa pelonggaran sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan. Sebagai imbalan, Washington meminta langkah konkret Teheran untuk menghentikan pengayaan nuklir.
Trump membantahnya lewat Truth Social. Ia menyebut laporan itu tidak benar dan menegaskan, “I offered them NOTHING!” Ia juga meminta pemberitaan tersebut ditarik.
Bantahan ini membuat pasar menghapus ekspektasi gencatan senjata cepat, sehingga premi risiko geopolitik kembali naik.

Diplomasi Jalan Terus di New York
Di balik bantahan itu, jalur diplomasi tidak langsung tetap berjalan di sela Sidang Umum PBB di New York. Pejabat kedua negara dilaporkan bertemu secara terpisah lewat mediator dari Qatar dan Pakistan.
Sebelumnya, Menlu Iran Abbas Araghchi mengajukan proposal jeda perang tujuh hari. Isinya meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz, pembebasan aset, dan penghapusan sanksi minyak. Proposal ini ditolak Washington.
Dubes AS untuk PBB Mike Waltz menyebut Iran tidak bernegosiasi dengan itikad baik dan meminta seluruh pelonggaran sanksi diberikan di muka. AS menginginkan kepastian pemangkasan program nuklir lebih dulu sebelum sanksi dicabut.

Pasokan Belum Pulih Penuh
Arab Saudi dilaporkan telah mengoperasikan kembali pipa East-West hingga setengah kapasitas, dan terminal Yanbu di Laut Merah kembali aktif. Meski demikian, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih jauh di bawah level sebelum konflik, sekalipun sebagian tanker mulai berlayar dengan pengawalan ketat. Ketatnya pasokan fisik ini menjaga Brent tetap di atas level psikologis US$100.
Faktor Penahan Kenaikan
Kenaikan WTI tertahan oleh data American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan stok minyak mentah AS naik sekitar 1,02 juta barel pekan lalu. Rencana AS melepas cadangan minyak strategis (SPR) hingga 40 juta barel juga ikut meredam lonjakan harga domestik.
Yang Perlu Dicermati
Pelaku pasar akan memantau tiga hal:
- Hasil mediasi Qatar dan Pakistan di New York.
- Rilis data inventaris minyak AS dari EIA.
- Perkembangan keamanan maritim di Teluk dan volume pelayaran di Selat Hormuz.
Selama belum ada kejelasan jalur diplomasi dan normalisasi lalu lintas Hormuz, harga minyak berpotensi tetap volatil dengan bias tinggi. Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, harga di atas US$100 per barel berpotensi menekan neraca perdagangan, beban subsidi energi, dan nilai tukar Rupiah.
Oleh: Asido Situmorang








