Rekomendasi Harga Kopi Arabika 21 Agustus 2026 : Naik Terpicu Pengetatan Pasokan

34

(Vibiznews – Commodity) Harga kontrak berjangka kopi arabika dunia bergerak volatil namun bertahan kuat di area level tertinggi dalam 6,5 bulan terakhir pada perdagangan hari Jumat, 21 Agustus 2026. Pergerakan harga yang kokoh ini terjadi akibat kekhawatiran defisit pasokan global dalam jangka panjang.

Pergerakan harga kopi arabika hari ini terpantau berada di kisaran 359,15 hingga 363,40 sen dolar AS per pon di bursa ICE New York, setelah sebelumnya sempat melesat tajam sebesar 5,30 persen. Harga saat ini tengah mengalami fase konsolidasi yang sehat pasca reli signifikan tersebut. Sementara itu, di pasar fisik komoditas internasional, harga kopi arabika ditransaksikan stabil tinggi di kisaran 3,10 hingga 3,28 dolar AS per pon.

Katalis bullish utama yang menopang pergerakan harga hari ini digerakkan oleh krisis inventori global. Persediaan kopi arabika yang terdaftar di gudang bersertifikat bursa ICE merosot tajam ke level terendah dalam 2,75 tahun terakhir, dengan cadangan menyusut hingga kisaran 231.340 sampai 236.430 kantong. Tipisnya stok penyangga ini membuat pergerakan harga berjangka menjadi sangat sensitif terhadap disrupsi pasokan sekecil apa pun.

Selain itu, sentimen pasar turut dibayangi oleh ancaman fenomena Super El Nino terhadap siklus panen 2027. Lembaga riset dan perbankan global seperti Citi baru saja menutup posisi bearish mereka setelah melihat tren indikasi penguatan El Nino yang kian nyata menjelang akhir tahun. Meskipun cuaca kering di Brasil saat ini mempercepat penyelesaian panen jangka pendek untuk musim 2026/2027 yang telah mencapai 81,1 persen, anomali cuaca ekstrem El Nino diproyeksikan akan merusak proses pembentukan bunga kopi baru, sehingga mengancam volume produksi Brasil untuk siklus panen 2027 mendatang.

Harga arabika turut mendapat tambahan dukungan sentimen menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang melanda Kolombia, sebagai produsen arabika terbesar kedua di dunia. Gempa tersebut merusak infrastruktur logistik di provinsi penghasil utama seperti Caldas dan Risaralda. Meskipun aktivitas ekspor di Pelabuhan Buenaventura sudah mulai dibuka sebagian, pelaku pasar tetap mengantisipasi potensi keterlambatan distribusi pasokan ke pasar barat dalam waktu dekat.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kopi arabika ke depan masih akan ditopang oleh ketatnya stok gudang bersertifikat ICE serta kekhawatiran jangka panjang terhadap dampak Super El Nino dan gangguan pasokan dari Kolombia, meski tetap perlu diwaspadai potensi aksi ambil untung mengingat harga saat ini masih bertahan di level tertinggi dalam 6,5 bulan terakhir.