Rekomendasi Harga Minyak 25 Agustus 2026

39

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia bergerak stabil namun cenderung tertahan di zona merah pada perdagangan hari ini, Selasa (25/8/2026), setelah pada sesi sebelumnya anjlok lebih dari 2 persen akibat aksi ambil untung (profit-taking) menyusul reli tajam yang berlangsung sepekan penuh.

Berdasarkan data perdagangan terkini, minyak mentah acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 85,13 dolar AS per barel, bergerak relatif datar setelah kemarin terkoreksi dari level mingguan tertingginya. Sementara itu, minyak mentah acuan global jenis Brent diperdagangkan di kisaran 92,17 dolar AS per barel, berupaya mencari titik konsolidasi baru setelah sebagian besar keuntungan tajam dari reli pekan lalu tergerus dalam satu sesi.

Koreksi harga yang terjadi pada sesi sebelumnya dipicu oleh langkah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang mengumumkan rencana sanksi “economic D-Day” paling ketat dalam sejarah untuk mengisolasi total perdagangan Iran beserta mitra dagangnya. Langkah tersebut sempat memaksa terbukanya kembali sengketa di Selat Hormuz dan membuat pasar berjangka melonjak akibat risiko gangguan pasokan yang mendadak membesar. Namun, kenaikan tajam tersebut justru berbalik turun setelah para spekulan memilih melakukan likuidasi posisi guna mengamankan keuntungan yang telah terkumpul selama tren bullish beberapa hari terakhir.

Ketidakpastian di Selat Hormuz masih menjadi bayang-bayang utama bagi pasokan fisik global. Blokade geopolitik yang berkepanjangan membuat pengiriman minyak mentah dari Iran ke pembeli besar seperti Tiongkok terus menurun drastis, sehingga lalu lintas energi yang melintasi Selat Hormuz kini berada jauh di bawah kapasitas normalnya. Kondisi ini pada dasarnya tetap menjaga premi risiko geopolitik berada pada level yang tinggi, meski harga tengah terkoreksi dalam jangka pendek.

Dari sisi fundamental Amerika Serikat, tekanan tambahan terhadap harga datang dari data pasokan domestik yang menunjukkan persediaan komersial AS mencatatkan kenaikan sekitar 4,4 juta barel. Penambahan stok tersebut memberikan sedikit ruang redam bagi pasar di tengah ketatnya kondisi pasokan global, sekaligus turut mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil posisi jelang konfirmasi lebih lanjut atas dampak sanksi terhadap Iran.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang bergerak datar di kisaran 85,13 dolar AS per barel menempatkan pivot point harian di sekitar level tersebut, setelah terkoreksi dari level mingguan tertingginya di atas 87 dolar AS per barel. Selama harga tertahan di bawah pivot point, tekanan konsolidasi berpotensi berlanjut menuju support 1 di kisaran 84,20 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di support 2 pada area 83,00 dolar AS per barel apabila aksi profit-taking berlanjut lebih dalam. Sebaliknya, apabila muncul minat beli kembali menyusul konfirmasi lanjutan dampak sanksi terhadap Iran, resistance 1 berada di kisaran 86,00 dolar AS per barel sebagai batas atas terdekat, dengan resistance 2 di area 87,20 dolar AS per barel sebagai ujian bagi kelanjutan tren bullish sebelumnya.

Untuk minyak mentah Brent, dengan harga bergerak di kisaran 92,17 dolar AS per barel setelah tergerus dari level psikologis 94,00 dolar AS per barel pekan lalu, pivot point harian berada di sekitar level tersebut. Selama harga tertahan di bawah pivot point, potensi pelemahan lanjutan dapat mengarah ke support 1 di kisaran 91,00 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 89,50 dolar AS per barel sebagai lantai pertahanan berikutnya jika likuidasi posisi spekulan berlanjut. Sementara itu, resistance 1 berada di kisaran 93,20 dolar AS per barel, dengan resistance 2 di area psikologis 94,50 dolar AS per barel sebagai target apabila kekhawatiran atas dampak sanksi AS terhadap Iran kembali menguat.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada rincian lebih lanjut implementasi sanksi ekonomi AS terhadap Iran, perkembangan arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta rilis data resmi cadangan minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA) yang akan menjadi konfirmasi atas tren akumulasi stok domestik Amerika Serikat pekan ini.