(Vibiznews – Commodity) Harga kontrak berjangka kopi arabika di bursa Intercontinental Exchange New York ditutup melonjak tajam pada sesi perdagangan hari Selasa, 25 Agustus 2026. Komoditas ini mencatatkan reli harian yang sangat impresif, mendorong harganya ke level tertinggi baru dalam enam minggu terakhir dan mendekati rekor tertingginya sepanjang tahun ini.
Pergerakan harga kopi arabika hari ini terpantau melonjak signifikan sebesar 5,89 persen atau naik 19,00 sen, dengan kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup pada level 341,65 sen dolar AS per pon, atau setara sekitar 3,42 dolar AS per pon. Sepanjang sesi perdagangan, harga sempat menyentuh level puncak harian di posisi 342,55 sen per pon sebelum sedikit berkonsolidasi menjelang bel penutupan.
Faktor pemicu utama meroketnya harga hari ini adalah terus merosotnya cadangan stok kopi arabika bersertifikasi di gudang bursa ICE. Pasokan yang terus tersedot kini resmi mendekati level terendah dalam 26 tahun terakhir, menciptakan kepanikan di kalangan industri pemanggangan kopi atau roasters yang mulai kesulitan mengamankan pasokan fisik.
Selain krisis inventoris, laju pemetikan buah kopi di Brasil sebagai produsen terbesar dunia juga berjalan jauh di bawah rata-rata historisnya. Lembaga riset Safras & Mercado mencatat realisasi panen musim 2026/2027 baru mencapai 90 persen, tertinggal dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang telah mencapai 97 persen. Khusus untuk segmen arabika, keterlambatan bahkan tercatat lebih parah karena progres panen baru rampung sekitar 86 persen.
Hambatan pasokan fisik global turut diperparah oleh disrupsi ekspor di Kolombia. Lumpuhnya aktivitas ekspor di Pelabuhan Buenaventura, Kolombia, sebagai produsen arabika terbesar kedua dunia pasca guncangan gempa bumi besar, membuat hambatan logistik ganda dari kawasan Amerika Selatan ini memaksa pelaku pasar melakukan aksi beli secara masif.
Kenaikan harga hari ini juga tidak lepas dari efek teknis pembukaan periode pemberitahuan pengiriman atau delivery notice period untuk kontrak spot, yang berjalan dengan volume penawaran fisik sangat minimal. Kondisi ini langsung memicu pembatasan posisi jual dan mendorong lonjakan harga teknis melalui aksi short covering di lantai bursa.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kopi arabika ke depan masih berpotensi melanjutkan penguatannya, ditopang oleh krisis inventoris global, keterlambatan panen di Brasil, serta disrupsi pasokan dari Kolombia, meski pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung mengingat harga saat ini telah mendekati level tertinggi sepanjang tahun.








