Rekomendasi Harga Minyak 11 September 2026

35

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia acuan Brent dan WTI meroket tajam lebih dari enam persen pada perdagangan pasar komoditas internasional sesi menjelang akhir pekan hari Jumat (11/9/2026), membawa kedua patokan harga tersebut kompak menembus level psikologis seratus dolar Amerika Serikat per barel. Reli yang sangat kuat ini sekaligus mencatatkan rekor harga penutupan tertinggi sejak bulan Mei lalu serta menandai lonjakan harian terbesar dalam dua bulan terakhir.
Berdasarkan data perdagangan terkini, minyak mentah acuan global jenis Brent melonjak 6,42 dolar AS atau sekitar 6,34 persen dan ditutup pada posisi 107,63 dolar AS per barel. Di pasar spot fisik dan perdagangan intraday berjangka, pergerakan harga Brent bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 108,90 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate acuan Amerika Serikat juga meroket 6,43 dolar AS atau 6,69 persen ke level 102,48 dolar AS per barel, setelah sebelumnya kontrak berjangka WTI sempat diperdagangkan menyentuh area tertinggi harian di 104,46 dolar AS per barel.
Lonjakan harga yang sangat signifikan pada perdagangan hari ini utamanya dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang semakin masif di kawasan Timur Tengah. Sentimen utama berasal dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada ancaman penutupan jalur pasokan energi strategis. Serangan udara intensif yang melibatkan penghancuran sejumlah kapal tanker minyak di Selat Hormuz menyebabkan rute krusial yang menampung hampir seperlima pasokan minyak dunia tersebut tersumbat, sehingga memicu kepanikan luar biasa di pasar energi.
Ketakutan pelaku pasar juga semakin memuncak setelah kelompok Houthi dilaporkan berhasil merebut kendali atas Kota dan Pelabuhan Al-Mokha di Yaman, yang letaknya tepat berada di dekat Selat Bab al-Mandab. Mengingat wilayah perairan ini mengontrol sekitar 12 persen lalu lintas minyak global, kejadian tersebut memicu kekhawatiran yang mendalam akan terjadinya gangguan pasokan yang berkepanjangan. Melengkapi sentimen geopolitik yang memanas, data dari Energy Information Administration turut menopang harga dari sisi fundamental dengan melaporkan bahwa cadangan minyak mentah komersial Amerika Serikat telah menyusut sebanyak 391.000 barel akibat kuatnya aktivitas operasional kilang domestik.
Merespons rentetan peristiwa ini, para analis komoditas memperkirakan bahwa selama ketegangan maritim di Selat Hormuz dan Laut Merah belum mereda, harga minyak Brent memiliki ruang yang terbuka lebar untuk menguji area 110 hingga 125 dolar AS per barel hingga akhir tahun. Hal ini tidak lepas dari terus dihitungnya premi risiko perang serta premi logistik akibat melonjaknya biaya asuransi kapal tanker. Di sisi lain, bagi pasar keuangan global secara makro, lompatan harga energi ini semakin meningkatkan kecemasan terhadap laju inflasi global dan memperbesar probabilitas bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mengambil sikap yang lebih agresif dalam menaikkan suku bunga pada pertemuan 16 September mendatang.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 109,50 – 111,20 dan support di 105,50 – 103,80. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 104,80 – 106,50 dan support di 100,50 – 98,50.