(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia bergerak stabil dengan kecenderungan menguat tipis pada awal perdagangan pasar komoditas internasional menjelang akhir pekan hari Jumat (18/9/2026). Pergerakan ini menandai fase konsolidasi setelah kedua harga kontrak acuan melandai pada sesi sebelumnya, yang kini mendapat sokongan kuat dari pulihnya selera risiko di pasar global.
Pada penutupan sesi perdagangan hari Kamis (17/9/2026), kedua kontrak acuan minyak mentah ditutup melandai terbatas namun tetap mampu bertahan di atas area batas psikologis masing-masing. Minyak mentah acuan global jenis Brent ditutup turun 0,6 persen ke level 103,82 dolar AS per barel, setelah bergerak fluktuatif dalam rentang harian antara 103,10 hingga 104,50 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate acuan Amerika Serikat ditutup turun 0,8 persen ke level 101,15 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat menguji batas bawah harian di kisaran 100,50 dolar AS per barel.
Dinamika pergerakan harga minyak sepanjang hari ini banyak didikte oleh persilangan berbagai sentimen makro. Kenaikan tipis pada sesi Asia didorong oleh kebangkitan aset berisiko yang tercermin dari lonjakan tajam bursa Wall Street semalam. Kembalinya kepercayaan investor pasca-keputusan Federal Reserve ikut mengerek harga komoditas energi, di mana pulihnya optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi global secara otomatis memperbaiki proyeksi permintaan minyak mentah dalam jangka pendek.
Dari sisi pasokan, tekanan harga akibat kekhawatiran gangguan rantai pasok hulu dari kawasan Timur Tengah mulai dinormalisasi oleh pasar. Langkah mitigasi cepat dari raksasa energi Saudi Aramco yang mengalihkan rute kapal tangker ke pelabuhan alternatif dinilai sukses meredam premi risiko geopolitik yang sempat melonjak tajam pada awal pekan ini.
Di saat yang sama, fokus investor hari ini masih tertuju pada pencernaan dampak dari laporan mingguan persediaan resmi Energy Information Administration. Meskipun sebelumnya terdapat sentimen negatif dari lonjakan stok versi data industri, pasar kini melihat pasokan riil masih berada dalam batas aman untuk menutupi tingkat konsumsi pada kuartal ketiga.
Selain itu, menyusutnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun dari level puncaknya di 5,01 persen kembali ke level 4,93 persen turut menahan laju keperkasaan indeks Dolar AS. Stabilnya mata uang Dolar AS ini membuat pembelian komoditas energi menjadi lebih terjangkau bagi para pemegang mata uang lainnya, sehingga memberikan dorongan tambahan bagi pergerakan harga minyak harian.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 105,20 – 106,80 dan support di 102,50 – 101,10. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 102,80 – 104,50 dan support di 99,80 – 98,50.








