(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir melemah signifikan pada penutupan perdagangan hari Kamis (17 September 2026). Koreksi ini memperpanjang tren kerugian mingguan sekaligus menyeret harga kopi arabika ke level terendah dalam dua setengah bulan terakhir akibat perubahan drastis pada prospek pasokan global.
Kontrak berjangka kopi arabika acuan untuk pengiriman Desember 2026 ditutup anjlok sebesar 1,79 persen atau turun 5,05 sen untuk bertengger di level 276,50 sen dolar AS per pon. Sepanjang satu bulan terakhir, komoditas kopi ini telah terdepresiasi lebih dari 16 persen seiring dengan meredanya kecemasan pasar terhadap krisis pasokan yang sempat melanda pada awal tahun.
Kombinasi antara melimpahnya data pasokan dan perbaikan cuaca di negara produsen utama menjadi motor penggerak sentimen pelemahan pada perdagangan kali ini. Tekanan jangka panjang utamanya dipicu oleh laporan berkala dari International Coffee Organization yang memproyeksikan bahwa produksi kopi global untuk periode musim 2025/2026 akan melonjak 4,4 persen secara tahunan menjadi rekor 183,6 juta kantong. Mengingat tingkat konsumsi diperkirakan justru turun tipis 0,9 persen, pasar global kini bersiap menghadapi surplus pasokan sekitar 3 juta kantong, yang sekaligus mengakhiri tren defisit berturut-turut dalam empat musim sebelumnya.
Sentimen pelemahan harga juga kian diperberat oleh derasnya arus ekspor biji kopi hijau dari Brasil. Laporan dari badan bea cukai Brasil, Secex, menunjukkan bahwa rata-rata volume ekspor biji kopi hijau harian pada awal September melonjak lebih dari 51,5 persen dibandingkan rata-rata tahun lalu. Aktivitas pengapalan yang sangat agresif pasca panen ini secara instan membanjiri pasar fisik global. Di samping itu, kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kerusakan tanaman akibat pola cuaca kering mulai ternormalisasi oleh laporan komoditas terbaru dari Rabobank. Curah hujan di atas rata-rata historis yang mengguyur wilayah perkebunan utama Minas Gerais dinilai sukses memicu fase pembungaan awal yang sangat baik untuk mendukung potensi panen musim depan.
Kendati dihantam berbagai sentimen negatif, penurunan harga kopi arabika sedikit tertahan dari kejatuhan yang lebih dalam berkat dukungan teknikal dari sisi persediaan. Tingkat persediaan kopi bersertifikat di gudang pemantauan bursa ICE dilaporkan masih bertengger di level terendahnya dalam 27 tahun terakhir, yakni hanya tersisa sekitar 217.646 kantong. Rendahnya stok cadangan di gudang bursa ini terus berfungsi sebagai bantalan penahan atau batas bawah yang kuat di pasar berjangka.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika masih akan dibayangi oleh tren penurunan seiring dengan prospek surplus pasokan global dari ICO serta derasnya arus ekspor kopi dari Brasil. Meskipun demikian, kritisnya ketersediaan stok fisik di gudang ICE akan terus membatasi ruang penurunan agar tidak jatuh terlalu dalam. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak menekan area Support di kisaran 272,00 hingga 270,00. Namun apabila terjadi aksi beli teknikal, harga akan mencoba merangkak naik menguji area Resistance di kisaran 280,00 hingga 282,00.








