Harga CPO Selasa Ditutup Melemah Terpicu Kenaikan Produksi Malaysia

52
cpo sawit

(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (22/9/2026). Setelah sempat menguji area puncaknya, harga CPO acuan di bursa komoditas regional bergerak defensif akibat kombinasi lonjakan pasokan jangka pendek dan perlambatan laju ekspor. Kontrak acuan Desember 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah 41 ringgit atau 0,84 persen ke level RM4.857 per metrik ton, bergerak dalam rentang konsolidasi harian setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan jangka pendeknya.

Tekanan jual utama pada harga CPO dunia hari ini dipicu oleh lonjakan tajam aktivitas panen kelapa sawit di hulu. Estimasi output produksi CPO Malaysia untuk periode September berjalan dilaporkan melesat lebih dari 21 persen secara bulanan. Kenaikan produksi yang signifikan ini memicu kecemasan pasar terhadap potensi penumpukan inventaris gudang pada bulan Oktober mendatang. Di sisi permintaan, sinyal pelemahan juga terlihat jelas, dengan laporan survei kargo mencatat volume ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1–20 September anjlok hingga 25 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga memperbesar risiko penumpukan stok di negara produsen.

Tekanan tambahan datang dari penguatan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat. Penguatan mata uang domestik bursa acuan ini secara otomatis mengikis daya saing ekspor CPO, karena harganya relatif menjadi lebih mahal bagi para pembeli internasional yang bertransaksi menggunakan valuta asing lain. Kombinasi antara lonjakan produksi, pelemahan ekspor, dan penguatan ringgit inilah yang menjadi penyebab utama koreksi harga CPO pada perdagangan hari ini.

Meski demikian, kejatuhan harga lebih dalam berhasil dibentengi oleh pernyataan resmi terbaru dari Dewan Minyak Sawit Malaysia atau MPOC. Lembaga tersebut memproyeksikan harga CPO akan tetap kokoh bertahan di atas level RM4.700 per metrik ton hingga akhir tahun 2026. Proteksi harga ini didorong oleh risiko cuaca kering ekstrem El Nino yang berpotensi memotong pasokan global untuk siklus produksi tahun 2027 mendatang, sehingga tetap memberikan fondasi bullish bagi prospek harga sawit dunia dalam jangka menengah hingga panjang.

Sejalan dengan pergerakan di Bursa Malaysia, harga fisik dalam negeri turut mencerminkan penyesuaian pasar. Berdasarkan hasil rapat Tim Penetapan Harga Sawit Setara, harga CPO rerata tertimbang untuk wilayah Riau pada periode berjalan ditetapkan sebesar Rp15.670,35 per kilogram.