Rekomendasi Harga Kakao 22 September 2026

48

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global berakhir dengan mencatatkan kenaikan moderat pada penutupan perdagangan awal pekan hari Senin waktu setempat. Komoditas bahan baku cokelat ini berhasil bangkit atau rebound dari level terendah minggu lalu, ditopang oleh perubahan prospek pasokan jangka panjang di kawasan Afrika Barat serta sentimen pelemahan mata uang eksternal.

Pergerakan kontrak acuan kakao di bursa ICE New York untuk pengiriman bulan Desember 2026 ditutup menguat 0,82 persen atau bertambah 48 dolar AS, dan menetap di level 5.890 dolar AS per metrik ton. Tren positif serupa juga mewarnai bursa ICE London, di mana kontrak kakao pengiriman Desember 2026 ditutup naik 0,79 persen atau bertambah 34 pound sterling menuju kisaran 4.320 pound sterling per metrik ton.

Dinamika pergerakan harga kakao sepanjang sesi perdagangan tersebut sangat didikte oleh interaksi antara prospek panen dan fluktuasi valuta asing. Katalis utama yang mempercepat laju kenaikan harga kakao, khususnya di bursa London, adalah merosotnya nilai tukar pound sterling terhadap dolar AS hingga menyentuh level terendah dalam satu setengah bulan terakhir. Mengingat kontrak kakao London diperdagangkan dalam denominasi sterling, pelemahan mata uang Inggris ini secara otomatis membuat harga komoditas menjadi relatif lebih murah bagi para pembeli yang memegang valuta asing lainnya, sehingga sukses memicu aksi beli di pasar.

Meskipun pasokan fisik jangka pendek dari Pantai Gading terpantau masih sangat melimpah dengan total pengiriman ke pelabuhan domestik melonjak 18 persen secara tahunan, kejatuhan harga lebih lanjut berhasil dicegah oleh kekhawatiran atas ancaman defisit pasokan untuk musim baru 2026/2027. Hasil survei awal di lapangan menunjukkan bahwa pembentukan buah kakao muda atau cherelle di Pantai Gading berada di bawah tingkat rata-rata akibat dampak lanjutan dari cuaca ekstrem. Temuan fundamental ini telah membuat para analis memangkas perkiraan surplus global secara drastis untuk ketersediaan pasokan tahun depan.

Di sisi lain, pergerakan harga juga mendapat bantalan yang cukup kuat dari stabilnya posisi persediaan komoditas komersial di gudang bursa ICE. Meski persediaan kakao bersertifikat sempat merangkak naik dan bertahan di area tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni di kisaran 3,42 hingga 3,43 juta kantong, stabilisasi jumlah stok pascalonjakan pasokan baru-baru ini cukup efektif dalam membatasi ruang bagi para spekulan. Kondisi ini mencegah para pelaku pasar untuk melakukan aksi jual besar-besaran lanjutan atau long liquidation yang dapat menekan harga lebih dalam.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk sesi perdagangan selanjutnya, pergerakan harga kakao berpotensi mencoba melanjutkan tren pemulihannya dengan didukung oleh sentimen ancaman penurunan produksi musim depan dan faktor teknikal dari pasar valuta asing. Harga kakao diperkirakan akan bergerak menguji area resistance di kisaran 5.960 hingga 6.050 dolar AS per metrik ton jika momentum aksi beli terus berlanjut. Namun, apabila pasar kembali terbebani oleh sentimen melimpahnya stok fisik harian dan memicu tekanan jual, pergerakan harga berpeluang terkoreksi menguji level support di sekitar 5.820 hingga 5.750 dolar AS per metrik ton.