(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia acuan Brent dan WTI bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan pasar komoditas internasional hari Kamis (24/9/2026). Pasar minyak saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah yang bergejolak, sementara rilis data persediaan domestik Amerika Serikat menjadi faktor penahan kenaikan harga lebih lanjut.
Pada sesi perdagangan hari ini, harga penutupan minyak mentah acuan global jenis Brent berada di kisaran 102,13 hingga 102,25 dolar AS per barel. Angka ini menunjukkan pelemahan setelah pada penutupan Rabu sebelumnya Brent sempat melonjak tajam hingga 103,08 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate acuan Amerika Serikat ditutup melemah di kisaran 91,98 dolar AS per barel, terkoreksi tipis dari penutupan hari sebelumnya di level 92,16 dolar AS per barel.
Perbedaan respons antara kedua acuan ini sangat terlihat di pasar, di mana harga Brent jauh lebih sensitif terhadap risiko pasokan global dan ketegangan di kawasan Teluk, sedangkan harga WTI lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi keseimbangan pasokan dan permintaan di wilayah Amerika Utara. Faktor utama yang menjadi penggerak terbesar saat ini adalah kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta risiko jalur distribusi maritim di Selat Hormuz.
Perdagangan berlangsung sangat volatil karena pasar harus terus memperbarui probabilitas antara gangguan pasokan fisik dan kemungkinan de-eskalasi. Terdapat sinyal yang bertolak belakang dari kawasan tersebut, di mana Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tidak akan menyerah, namun pada saat yang sama muncul sinyal keterbukaan diplomasi mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz jika sanksi dicabut. Ketegangan pasar juga sedikit mereda menyusul langkah pemulihan jalur pipa pasokan alternatif oleh Arab Saudi yang berhasil menurunkan premi risiko energi yang sebelumnya melambung.
Dari sisi fundamental pasokan Amerika Serikat, data persediaan minyak yang dirilis oleh Energy Information Administration justru memberikan sentimen bearish bagi pergerakan WTI. Laporan tersebut mencatat adanya lonjakan persediaan minyak mentah domestik sebesar 3 juta barel menjadi total 426,4 juta barel, di mana angka ini jauh berbeda dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya penyusutan pasokan. Meskipun demikian, penurunan stok bensin sebesar 1,7 juta barel dan distilat sebesar 428 ribu barel memberikan sebagian kompensasi karena menunjukkan bahwa pasokan produk olahan kilang tetap relatif ketat di tengah tingkat utilisasi kilang yang turun ke 94 persen.
Selain itu, pasar juga mencerna sentimen dari kebijakan OPEC+ yang bersepakat untuk menambah pasokan pada bulan September sebesar sekitar 188 ribu barel per hari dan memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi tersebut untuk periode bulan Oktober. Secara fundamental, bertambahnya pasokan global ini menjadi faktor penekan harga minyak lebih lanjut.
Namun demikian, penurunan harga tertahan oleh laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang mencatat bahwa pasokan minyak global secara historis memang terganggu secara signifikan. IEA melaporkan bahwa persediaan minyak dunia telah merosot drastis sekitar 507 juta barel sejak Februari lalu akibat rentetan gangguan produksi di kawasan Teluk. Tarik-menarik antara kejutan pasokan geopolitik yang bullish dan fundamental persediaan Amerika Serikat yang cenderung bearish inilah yang pada akhirnya membuat harga minyak terus berfluktuasi namun tetap kokoh di atas level psikologis 100 dolar AS untuk Brent dan 90 dolar AS untuk WTI.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 104,20 – 105,50 dan support di 100,50 – 99,20. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 93,80 – 95,00 dan support di 90,50 – 89,20.








