Ketegangan AS-Iran Masih Berlanjut di Akhir Pekan

96

(Vibiznews – Economy & Business) Ketegangan AS-Iran kembali berlanjut di akhir pekan, melalui pernyataan kedua belah pihak yang belum menemui kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Minggu menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi perang melawan AS, namun ia tetap membuka pintu bagi diplomasi untuk perdamaian.

AS dan Iran telah terlibat dalam konflik yang pasang-surut sejak 28 Februari, yang memicu guncangan minyak global yang melonjakkan harga bahan bakar dan meningkatkan inflasi.

Pada hari Jumat, Araghchi telah mengusulkan pembukaan kembali selat tersebut dan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari, dengan syarat pemerintahan Trump menerima ketentuan yang diajukan Iran.

Presiden Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa Iran telah mengajukan usulan namun ia menolaknya, dengan alasan bahwa Teheran menginginkan pembukaan kembali selat tersebut secara segera karena posisi mereka sedang melemah.

Selama konflik berlangsung, Iran telah sangat mengganggu lalu lintas di selat tersebut, sehingga membatasi ekspor minyak dan gas dari Teluk Persia.

Selain menolak kesepakatan itu, Trump menyatakan rencananya untuk kembali membom Teheran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada bulan November.

Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz menyebut tawaran terbaru Iran sebagai upaya sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka sendiri tahu tidak akan dapat diterima.

“Presiden akan tetap membuka semua opsi untuk memastikan dunia aman dari ancaman Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklir,” kata Waltz.
Iran tetap pada pendiriannya untuk hanya akan membuka kembali Selat Hormuz yang vital jika syarat-syaratnya dipenuhi—meskipun mendapat kecaman dari Trump—sementara seorang petinggi militer Iran menegaskan kesiapan negaranya untuk terus bertempur.

“Syarat-syarat kami jelas; setiap kemajuan menuju pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan syarat-syarat tersebut, dan kami tidak akan mundur darinya,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di saluran Telegram-nya yang diterjemahkan oleh Google.

Dalam pernyataan terbarunya, Araghchi mengatakan bahwa pihak perantara antara AS dan Iran belum menyampaikan tanggapan resmi dari Trump kepada Teheran. “Hanya solusi melalui perundingan yang dapat memecahkan kebuntuan ini,” ujarnya.

Syarat-syarat Teheran mencakup pengakhiran blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pekan lalu.

Selain itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada hari Minggu menyatakan telah menyita sebuah kendaraan bawah air militer AS yang canggih yang sedang beroperasi di Selat Hormuz. Namun, juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan bahwa AS memiliki “kendali penuh atas seluruh aset drone operasional kami.”