Rekomendasi Harga Kakao 28 September 2026

83

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global membuka pekan ini dengan bekal momentum penguatan setelah ditutup naik untuk sesi kelima berturut-turut pada perdagangan Jumat lalu. Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York berakhir di kisaran 5.619 dolar AS per metrik ton, memperpanjang rebound dari level terendah 1,75 bulan yang disentuh pada Selasa pekan lalu akibat aksi ambil untung.

Motor utama kenaikan harga adalah kekhawatiran cuaca kering di Pantai Gading, produsen kakao terbesar dunia. Prakiraan cuaca menunjukkan curah hujan di bawah normal sepanjang sepekan ke depan, yang dikhawatirkan menekan tanaman dan memangkas output musim panen 2026/2027. Survei awal menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi Pantai Gading sekitar 1,8 juta metrik ton, turun sekitar 18 persen dari 2,2 juta metrik ton pada musim 2025/2026. Di sisi lain, kakao London mendapat dorongan tambahan dari pelemahan poundsterling yang jatuh ke level terendah sekitar 2,75 bulan terhadap dolar AS, sehingga harga komoditas berdenominasi sterling menjadi relatif lebih murah bagi investor global.

Faktor Ghana dan El Niño ikut menopang sentimen. Regulator kakao Ghana, COCOBOD, memproyeksikan produksi 2026/2027 turun menjadi 450.000–550.000 metrik ton dari sekitar 750.000 metrik ton musim ini, akibat penyakit swollen shoot, kebun yang menua, dan risiko cuaca. Sementara itu, Badan Iklim AS memperkirakan El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun. Fenomena ini umumnya membawa cuaca lebih panas dan kering ke Afrika Barat. Dukungan tambahan datang dari sisi permintaan, setelah Cocoa Association of Asia melaporkan penggilingan kakao Asia kuartal II melonjak 25 persen secara tahunan menjadi 224.646 metrik ton, jauh di atas ekspektasi kenaikan 9 persen.

Meski demikian, laju penguatan masih tertahan oleh pasokan jangka pendek yang melimpah. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik ke level tertinggi sekitar 2,25 tahun di 3,44 juta kantong. Regulator Pantai Gading juga mencatat panen Juni 2025 hingga Juni 2026 melonjak 30 persen menjadi 2,06 juta metrik ton, sementara pengapalan ke pelabuhan sejak 1 Oktober 2025 hingga 20 September 2026 mencapai 2,16 juta metrik ton. Barry Callebaut, produsen kakao olahan terbesar dunia, juga menilai pasar saat ini cukup terpasok sehingga lebih siap menghadapi risiko El Niño dibanding musim 2023/2024. Faktor-faktor inilah yang membuat harga sempat terkoreksi tajam sejak puncak akhir Agustus sebelum berbalik arah pekan lalu.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga kakao berpeluang melanjutkan momentum penguatan seiring kekhawatiran cuaca di Afrika Barat menjelang musim panen utama. Harga diperkirakan menguji area resistance di kisaran 5.709 hingga 5.800 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila sentimen tingginya stok gudang kembali mendominasi dan memicu aksi ambil untung, harga berpeluang terkoreksi menguji support di sekitar 5.495 hingga 5.372 dolar AS per metrik ton.