Rekomendasi Harga Gula 28 September 2026

63

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional berakhir turun pada akhir pekan hari Jumat (25 september 2026).

Harga gula berjangka kontrak Oktober 2026 ditutup turun 0,46% pada 17,50 sen per pon.

Pergerakan ini mencerminkan konsolidasi bernada tertekan pada kontrak berjangka gula mentah dunia acuan nomor 11 di bursa ICE New York, setelah pasar sempat mencatat reli yang kencang hingga menyentuh level tertinggi dalam sekitar 17 bulan pada 10 September lalu. Level tertinggi 52 pekan berada di 19,32, sedangkan level terendahnya di 13,26.

Faktor utama yang menekan harga datang dari kekhawatiran memudarnya permintaan fisik. Data McDougall Global Views menunjukkan open interest pada kontrak Oktober yang akan kedaluwarsa pekan ini mengindikasikan potensi pengiriman fisik sekitar 1,8 juta metrik ton, di atas rata-rata enam tahun terakhir, yang menjadi sinyal lemahnya permintaan. Pada kontrak Oktober gula putih London, volume pengiriman fisik mencapai 499.350 metrik ton, naik 91 persen secara tahunan dan tercatat sebagai salah satu yang terbesar untuk kontrak bulan Oktober. Kondisi ini mengisyaratkan lesunya serapan komersial riil dari para importir global.

Tekanan jual bertambah setelah laporan terbaru StoneX. Lembaga tersebut mempersempit estimasi defisit gula global musim 2026/27 menjadi 900 ribu metrik ton dari estimasi Juli sebesar 1,7 juta metrik ton. Revisi ini mengurangi sebagian narasi kelangkaan pasokan yang sebelumnya menjadi penopang utama reli. Di sisi lain, posisi spekulatif masih sangat padat. Laporan Commitment of Traders menunjukkan posisi beli bersih dana spekulatif pada gula mentah New York mencapai 161.342 kontrak pada pekan yang berakhir 15 September, tertinggi dalam hampir tiga tahun. Posisi beli yang terlalu besar ini rentan memicu aksi likuidasi dan ambil untung, sehingga memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.

Meski demikian, ruang penurunan harga tertahan oleh prospek fundamental jangka panjang yang masih ketat. Organisasi Gula Internasional (ISO) memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun satu persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit 200 ribu metrik ton, akibat potensi dampak El Nino terhadap panen di India dan Thailand. Asosiasi Pabrik Gula Thailand memproyeksikan produksi gula negara itu bisa turun 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton. Risiko cuaca kering di wilayah perkebunan tebu negara produsen utama diperkirakan masih membayangi pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak konsolidasi dengan bias tertekan oleh aksi likuidasi jangka pendek dan lambatnya serapan fisik. Harga gula mentah diperkirakan akan menguji kisaran support terdekat di 17,36 hingga 17,23. Namun, apabila kekhawatiran terhadap ancaman iklim kembali memicu aksi beli teknikal di pasar, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 17,67 hingga 17,85.