(Vibiznews – Banking) Coba ingat kapan terakhir kali Anda membayar es teh di warung dengan uang tunai. Bagi makin banyak orang Indonesia, jawabannya sudah lama sekali. Cukup buka ponsel, pindai kode, selesai.
Kebiasaan kecil itu kini terlihat jelas di data Bank Indonesia (BI). Per Agustus 2026, volume transaksi QRIS tumbuh sekitar 67,22% dibanding Agustus 2025. Angka ini tertinggi di antara kanal pembayaran digital lainnya. Total transaksi pembayaran digital nasional pada bulan yang sama mencapai 6,11 miliar transaksi, dan QRIS menjadi penggerak utamanya.
Memang, jika dibandingkan dengan Juni dan Juli, laju pertumbuhan Agustus sedikit menormal. Itu wajar, sebab Juni–Juli adalah musim liburan sekolah dan puncak kunjungan turis asing, sedangkan Agustus kembali ke aktivitas ekonomi biasa. Secara tahunan, pertumbuhannya tetap sangat sehat.
Dari Pinggir Jalan hingga Miliaran Transaksi
Skalanya makin besar. Sepanjang semester I 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nilai perputaran sekitar Rp600,7 triliun, dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, total transaksi sempat melewati 15 miliar pada Juli 2026.

Jumlah penggunanya terus bertambah. Rilis resmi BI pada 21 Agustus 2026 mencatat 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant. Dalam pembaruan terbaru pada forum FEKDI, angkanya naik menjadi sekitar 67 juta pengguna, atau kira-kira seperempat penduduk Indonesia, dengan 45,46 juta merchant terdaftar. Sebagian besar merchant adalah pelaku UMKM. Dampaknya mulai terasa: BI mencatat penggunaan uang tunai di masyarakat mulai melambat.
Kenapa Bisa Secepat Ini?
Kuncinya ada pada kemudahan. Bagi pedagang kecil, QRIS nyaris tanpa hambatan. Tidak perlu mesin EDC yang mahal, cukup ponsel dan selembar kode QR. Tarif MDR yang sangat rendah, bahkan 0% untuk mikro-merchant tertentu, membuat pemilik warung sampai pedagang kaki lima tak ragu mencobanya.
Bagi pembeli, satu kode bisa dibayar lewat dompet digital atau mobile banking dari bank mana pun. Tidak ada lagi drama uang kembalian yang diganti permen, dan setiap transaksi tercatat otomatis.
Faktor lainnya adalah generasi. Gen Z dan milenial, kini penggerak konsumsi nasional, memang jarang membawa uang tunai. QRIS pun merambah dari mal ke parkir, transportasi publik, tagihan bulanan, hingga tiket hiburan. Semua itu ditopang BI-FAST yang cepat dan murah, sehingga dana langsung masuk ke rekening penjual. Transaksi mobile banking nasional ikut naik sekitar 47%.
Turis Asing Ikut Belanja Pakai QRIS
Cerita menarik datang dari QRIS Antarnegara. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu pada Juli 2026 menyebut transaksi QRIS antara Indonesia dan Malaysia melonjak hingga 550% dalam satu hingga dua tahun terakhir. Angka ini khusus untuk koridor Malaysia, bukan seluruh negara mitra.
Data yang dipaparkan Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dalam forum FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta menunjukkan, nilai akumulatif sejak implementasi pada 2022 hingga akhir Juli 2026 mencapai Rp7,63 triliun dari 25,67 juta transaksi. Angka itu terdiri dari transaksi masuk (turis asing berbelanja di Indonesia) sebesar Rp5,90 triliun dari 21 juta transaksi, dan transaksi keluar (WNI berbelanja di luar negeri) sebesar Rp1,73 triliun dari 4,67 juta transaksi.

Rilis BI terbaru (SP 28/204/DKom) memperlihatkan tren yang makin kuat. Secara akumulatif sejak Agustus 2022 hingga akhir Agustus 2026, transaksi masuk tercatat Rp6,20 triliun dan transaksi keluar Rp1,85 triliun. Rilis tersebut menyebut net inbound sebesar Rp4,60 triliun, meski jika kedua angka itu dikurangkan hasilnya Rp4,35 triliun. Apa pun angka pastinya, arus uang turis asing yang masuk jauh lebih besar ketimbang yang keluar, dan selisih itu ikut menopang devisa. Sebagian besar dana dari turis mengalir ke UMKM di daerah wisata seperti Bali, Jakarta, dan Yogyakarta.
Saat ini QRIS terhubung dengan enam negara: Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Untuk koridor Singapura, Malaysia, dan Thailand saja, hampir 10 juta transaksi tercatat pada Januari–Juli 2026. Capaian ini mengantar QRIS Cross-border meraih “50-in-5 Awards 2026” kategori Kolaborasi di sela sidang PBB (UNGA 81) di New York. BI berencana memperluas jaringan ke India, Hong Kong, dan Timor Leste pada sisa 2026 hingga awal 2027.
Di Balik Kemudahan, Ada yang Mengintai
Setiap sistem pembayaran yang ramai selalu menarik perhatian pelaku kejahatan. PPATK dan OJK mencatat kerugian akibat fraud digital, termasuk yang menyangkut QRIS, sudah mencapai triliunan rupiah.
Modus yang paling sering muncul cukup sederhana. Ada pelaku yang menunjukkan tangkapan layar bukti bayar hasil suntingan. Kasus seperti ini dilaporkan di area Car Free Day Bekasi dan di Makassar, di mana pedagang hanya menerima Rp100 untuk barang senilai Rp100 ribu. Ada pula yang menempelkan stiker QRIS miliknya di atas kode asli. Belasan pedagang pujasera di kawasan kampus Bandung pernah jadi korban, dan kotak amal pun tak luput dari modus ini.
Yang lebih canggih adalah pembobolan kartu kredit lewat “DANA QR”: data kartu curian ditautkan ke dompet digital buatan pelaku, lalu limitnya dikuras tanpa OTP. Sementara itu, sindikat judi online memakai perusahaan cangkang untuk mendapatkan QRIS legal, lalu memakainya sebagai kanal deposit dan pencucian uang.
Yang Bisa Dilakukan
BI mendorong peralihan dari QRIS statis ke QRIS dinamis, yakni kode yang dibuat per transaksi dengan nominal terkunci. Bagi merchant, pegangan utamanya jelas: jangan percaya layar ponsel pembeli. Cek mutasi saldo di aplikasi merchant sebelum menyerahkan barang, dan periksa stiker QRIS secara berkala. Bagi konsumen, biasakan memastikan nama merchant di layar sebelum menekan tombol bayar.
Catatan Performa QRIS
Lonjakan QRIS menunjukkan Indonesia bergerak cepat menuju masyarakat nirtunai, dengan UMKM sebagai penerima manfaat utama. Tantangannya kini bergeser dari mengajak orang mau memakai QRIS menjadi menjaga agar orang tetap percaya. Makin besar volumenya, makin penting pengamanan, edukasi, dan pengawasannya.






