(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir melonjak pada hari Jumat, 2 Oktober 2026, dan menyentuh level tertinggi dua minggu. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah Ghana menaikkan harga yang dibayarkan kepada petani.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember 2026 di bursa ICE New York ditutup naik 289 poin atau 5,37%, pada kisaran $5.670 per ton.
Reli harga merupakan kelanjutan sentimen positif dari hari Kamis, saat Ghana menaikkan harga pembelian kakao dari petani untuk musim 2026/27 menjadi $3.647 per ton, naik 2,4% dari kenaikan terakhir pada bulan Februari. Harga yang lebih tinggi di Ghana dikhawatirkan mendorong petani di Pantai Gading menyelundupkan biji kakao ke Ghana demi harga yang lebih menarik. Hal ini berpotensi mengganggu aliran biji kakao ke pasar internasional.
Di sisi lain, tekanan dari sisi pasokan masih membayangi. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik ke level tertinggi dalam 2,25 tahun terakhir, yakni 3.500.581 kantong pada hari Jumat. Data Pantai Gading juga menunjukkan petani telah mengirimkan 2,18 juta metrik ton kakao ke pelabuhan sepanjang tahun pemasaran internasional berjalan (1 Oktober 2025 hingga 27 September 2026), naik 19,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Faktor fundamental jangka menengah tetap memberi penopang harga. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Namun, kekhawatiran permintaan masih membayangi setelah Lindt & Sprüngli menurunkan harga cokelat untuk kedua kalinya tahun ini dan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan organik 2026 menjadi 0% hingga 2%, dengan alasan lemahnya sentimen konsumen.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi setelah reli tajam, di tengah tarik-menarik antara kekhawatiran gangguan pasokan dari Ghana dan Pantai Gading serta tingginya stok gudang. Apabila aksi ambil untung dan sentimen melimpahnya pasokan kembali mendominasi, harga kakao berpeluang terkoreksi untuk menguji area support di kisaran 5.450 hingga 5.229 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran gangguan arus pasokan dan prospek produksi 2026/2027 yang lebih ketat tetap menjadi sorotan, harga berpeluang melanjutkan penguatan menguji area resistance di kisaran 5.836 hingga 6.001 dolar AS per metrik ton.








