Rekomendasi Forex Dolar AS 12 Oktober 2026 : Dapat Naik Terpicu Meningkatnya Ketegangan di Timur Tengah

76

(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir naik tipis pada akhir pekan hari Jumat, 9 Oktober 2026, terdukung imbal hasil Treasury AS yang tinggi, namun kenaikan tertahan data sentimen konsumen AS yang lebih lemah dari perkiraan.

Indeks dolar AS ditutup naik 0,09% pada 102,21.

Memasuki awal pekan ini, 12 Oktober 2026, dolar AS berpotensi mendapat dukungan dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang kini meluas ke Arab Saudi dan Yaman.

Dolar AS sempat tertekan di awal sesi, mundur menuju 102,00 setelah pasar bereaksi positif terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa tidak akan ada serangan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu 3 November. Namun dolar AS berbalik menguat terdukung imbal hasil Treasury AS. Yield Treasury 10 tahun bertahan di sekitar 5,3%, level tertinggi sejak 2002.

Kenaikan dolar AS tertahan setelah data sentimen konsumen AS memburuk. Indeks sentimen konsumen University of Michigan Oktober turun ke 46,3 dari 48,1 pada September, lebih rendah dari perkiraan ekonom. Ekspektasi inflasi satu tahun ke depan naik menjadi 4,7% dari 4,6%.

Dari sisi kebijakan moneter, The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75-4,00% pada 16 September 2026, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Pasar menilai peluang kenaikan lagi pada pertemuan FOMC 27-28 Oktober kecil, dengan peluang The Fed menahan suku bunga mencapai 81,7%.

Ketegangan meningkat tajam di akhir pekan. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dan ratusan orang terluka dalam serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu, 10 Oktober. Koalisi pimpinan Saudi juga melaporkan sebuah proyektil jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd, Dammam, dan proyektil lain menghantam terminal penumpang Riyadh pada Minggu. Kelompok Houthi yang didukung Iran pada Minggu kembali memperingatkan maskapai, pekerja bandara, dan penumpang agar tidak menggunakan bandara Arab Saudi.

Menanggapi serangan itu, Trump mengatakan sedang mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi dalam aksi balasan terhadap Houthi di Yaman. Trump menyebut AS dapat bergabung dalam operasi Saudi, termasuk keterlibatan militer langsung. Sebelumnya, Trump pada Sabtu kembali membuka peluang serangan militer terhadap Iran dengan mengatakan, “Kami mungkin saja melakukannya.”

Di sisi lain, jalur diplomasi belum tertutup. Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan Iran masih meninjau tanggapan AS atas proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari.

Harga minyak menjadi kunci. Minyak Brent sempat melampaui US$104 per barel pada Kamis 8 Oktober akibat serangan terhadap kapal tanker dan laporan opsi serangan AS ke Iran. Minyak kemudian turun pada Jumat setelah janji Trump. Serangan terhadap bandara di negara eksportir minyak utama ini, ditambah rencana keterlibatan AS, berpotensi mengembalikan premi risiko pada harga minyak saat pasar dibuka.

Minyak yang lebih mahal cenderung menopang dolar AS melalui tiga jalur. Pertama, minyak mendorong ekspektasi inflasi dan memperkuat sikap hawkish The Fed. Kedua, imbal hasil Treasury AS yang sudah tinggi berpotensi bertahan. Ketiga, eskalasi memicu permintaan aset safe haven. Mata uang negara importir energi seperti Euro dan Yen juga berpotensi tertekan oleh kenaikan harga minyak.

Namun dolar AS sudah berada dekat puncak tahunan di 102,54, sehingga kenaikan lanjutan membutuhkan katalis tambahan. Hari Senin ini pasar obligasi AS libur memperingati Columbus Day, sehingga likuiditas dan pergerakan imbal hasil Treasury kemungkinan terbatas. Dolar AS berisiko terkoreksi jika Iran memberi respons positif atas proposal Hormuz atau jika Washington menunda keterlibatan di Yaman.

Pasar kini menanti data inflasi AS. CPI utama bulan September diperkirakan naik 0,6% secara bulanan (3,6% secara tahunan dari 3,4%), sedangkan CPI inti diperkirakan naik 0,2% (2,5% secara tahunan dari 2,4%).
Data CPI akan dirilis pada hari Rabu, 14 Oktober, sedangkan PPI dan penjualan ritel dirilis pada hari Kamis.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak naik di awal pekan terdukung eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama serangan mematikan terhadap bandara Arab Saudi dan rencana Presiden AS Donald Trump untuk bergabung dalam operasi melawan Houthi di Yaman. Kondisi ini berpotensi mendorong harga minyak, ekspektasi inflasi, dan sikap hawkish The Fed. Namun kenaikan dapat tertahan oleh menurunnya sentimen konsumen AS, menjelang rilis data CPI AS, atau jika muncul sinyal positif dari diplomasi AS-Iran. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 102,39-102,56. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 101,98-101,74.