Rekomendasi Harga Minyak 12 Oktober 2026 : Dapat Terangkat Peningkatan Ketegangan di Timur Tengah

66

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah ditutup naik tipis pada akhir pekan hari Jumat, 9 Oktober 2026, dan membukukan kenaikan mingguan. Harga ditopang serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan ancaman badai di Teluk Meksiko, sementara tekanan datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menepis serangan ke Iran sebelum pemilu sela.

Harga minyak mentah berjangka WTI AS ditutup naik 0,39% pada $91,85 per barel.

Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup naik 0,42% pada $104,72 per barel.

Dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu ($91,11 untuk WTI dan $102,25 untuk Brent), WTI naik sekitar 0,8% dan Brent sekitar 2,4% dalam sepekan.

Pada hari Kamis, harga sempat melonjak tajam. Brent naik 4% dan ditutup di $104,28 per barel, sedangkan WTI naik 3,6% dan ditutup di $91,49 per barel. Kenaikan itu dipicu laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan opsi serangan ke Iran. Namun harga turun dari level tertingginya setelah Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela November.

Pada hari Jumat, harga bergerak terbatas karena risiko pasokan yang meningkat mengimbangi kelegaan sementara bahwa AS tidak akan mengeskalasi konflik dengan Iran bulan ini.

Risiko pasokan masih tinggi. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, sementara kelompok Houthi menembakkan rudal balistik ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Kpler mencatat 10 kapal tanker diserang di selat itu antara 28 September dan 4 Oktober, jauh di atas rekor mingguan sebelumnya sebanyak enam kapal. Volume minyak yang keluar dari Hormuz pada pekan yang berakhir Selasa sekitar 9,5 juta barel per hari, sekitar 30% di bawah level normal sebelum perang.

Faktor cuaca ikut menopang harga. Badai Isaias diperkirakan mendarat di Pantai Teluk bagian utara pada Jumat malam atau Sabtu dini hari, dengan produsen lepas pantai menutup lebih dari 60% produksi minyak mentah. Hampir 500.000 barel per hari kapasitas kilang berada di jalur badai. Dari sisi permintaan, data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah komersial AS turun 3,2 juta barel, dengan stok diesel terus menyusut.

Harga minyak berpotensi dibuka menguat pada awal pekan setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu menewaskan 12 orang dan melukai 309 orang. Presiden AS Donald Trump menyatakan AS mungkin bergabung dengan serangan Arab Saudi terhadap Houthi di Yaman dan kembali mempertimbangkan serangan terhadap Iran, meski sebelumnya menepis serangan sebelum pemilu sela.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak berpotensi menguat dengan eskalasi di Timur Tengah, terutama jika AS bergabung dalam serangan terhadap Houthi atau melanjutkan serangan ke Iran. Risiko pasokan dari Laut Merah, serangan terhadap kapal tanker di Hormuz, dan dampak Badai Isaias turut menopang harga. Namun jika muncul sinyal de-eskalasi atau diplomasi, harga bisa terkoreksi tajam.

Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $90,51-$89,17. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $92,68-$93,51.

Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $103,00-$101,29. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $105,76-$106,81.