(Vibiznews – Commodity) Harga minyak bergerak turun pada awal pekan di sesi perdagangan Asia hari Senin, 12 Oktober 2026, setelah Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS bergerak turun 1,09% pada $90,85 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent bergerak turun 0,75% pada $103,64 per barel.
Namun, penurunan harga minyak mentah tertahan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, seiring berlanjutnya bentrokan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, serta serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Harga minyak juga tertekan oleh aksi ambil untung setelah mencatatkan kenaikan pada pekan sebelumnya, di tengah ketegangan yang masih tinggi di Timur Tengah.
Namun, harga minyak mentah turun karena adanya prospek berkurangnya gangguan pada pasokan bahan bakar Rusia setelah Trump mengklaim bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata energi yang berlaku segera.
Pada akhir pekan, Trump juga mengancam Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy agar berhenti menyerang kilang minyak Rusia, sembari menyerukan agar Zelenskiy diganti dari posisinya sebagai pemimpin Ukraina.
Trump sebelumnya pernah mengumumkan gencatan senjata energi pada pertengahan September, meskipun baik Rusia maupun Ukraina tidak mengonfirmasi adanya kesepakatan semacam itu.
Pada hari Jumat, Trump mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dengan Rusia untuk membantu menurunkan harga di tingkat konsumen (pom bensin), yang sempat melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan harga minyak tertahan oleh ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah, terutama setelah Iran menyatakan bahwa usulan terbaru AS untuk membuka kembali Selat Hormuz “tidak memadai.”
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak dapat turun terpicu pernyataan Trump untuk gencatan senjata energi Rusia-Ukraina. Namun harga minyak berpotensi menguat dengan eskalasi di Timur Tengah, terutama jika AS bergabung dalam serangan terhadap Houthi atau melanjutkan serangan ke Iran. Risiko pasokan dari Laut Merah, serangan terhadap kapal tanker di Hormuz, dan dampak Badai Isaias turut menopang harga. Namun jika muncul sinyal de-eskalasi atau diplomasi, harga bisa terkoreksi tajam.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $90,51-$89,17. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $92,68-$93,51.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $103,00-$101,29. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $105,76-$106,81.








