(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir stagnan pada akhir pekan hari Jumat, 9 Oktober 2026. Risiko cuaca di Pantai Gading menopang harga, tetapi penguatan dolar AS menahan kenaikan lebih lanjut.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup tidak berubah, pada kisaran $5.665 per ton.
Hujan deras di Pantai Gading masih menjadi sorotan pasar. Pada hari Senin pekan lalu, harga sempat melonjak ke level tertinggi dua minggu setelah muncul laporan bahwa curah hujan berlebih memutus akses jalan dan merusak jembatan, sehingga memperlambat pengiriman kakao ke pelabuhan.
Namun, dolar AS yang menguat pada hari Jumat membatasi ruang kenaikan harga komoditas yang dihargai dalam dolar.
Di sisi lain, tekanan dari sisi pasokan masih membayangi. Inventaris kakao yang dipantau ICE berada di level tertinggi dalam 2,25 tahun terakhir, yakni 3.538.981 kantong pada hari Selasa. Data pemerintah Pantai Gading juga menunjukkan petani telah mengirimkan 2,18 juta metrik ton kakao ke pelabuhan sepanjang tahun pemasaran internasional berjalan (1 Oktober 2025 hingga 27 September 2026), naik 19,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Faktor fundamental jangka menengah tetap memberi penopang harga. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Kenaikan harga pembelian kakao di Ghana menjadi sekitar $3.647 per ton untuk musim 2026/27 juga memicu kekhawatiran penyelundupan biji kakao lintas batas, sementara risiko cuaca El Niño di Afrika Barat masih menjadi perhatian pasar.
Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Lindt & Sprüngli menurunkan harga cokelat untuk kedua kalinya tahun ini dan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan organik 2026 menjadi 0% hingga 2%, dengan alasan lemahnya sentimen konsumen. Namun, penggilingan kakao Asia pada kuartal kedua melonjak 25 persen secara tahunan menjadi 224.646 metrik ton, dan penggilingan Amerika Utara naik 7,7 persen.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, di tengah tarik-menarik antara gangguan pengiriman akibat cuaca serta prospek produksi musim 2026/2027 yang lebih ketat dan tingginya stok gudang serta penguatan dolar AS. Apabila sentimen tingginya inventaris dan kuatnya dolar kembali mendominasi, harga kakao berpeluang terkoreksi untuk menguji area support di kisaran 5.581 hingga 5.498 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran gangguan pengiriman dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.730 hingga 5.796 dolar AS per metrik ton.








