(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir naik tipis pada hari Senin, 12 Oktober 2026, didukung laporan hujan deras di Pantai Gading yang menghambat akses petani ke kebun kakao tepat saat musim panen dimulai. Namun, penguatan dolar AS ke level tertinggi 1,5 tahun membatasi kenaikan harga.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup naik 11 poin atau 0,19%, pada kisaran $5.676 per ton.
Gangguan cuaca di Pantai Gading masih menjadi faktor utama yang menopang harga. Hujan deras dilaporkan menyulitkan petani menjangkau kebun pada awal musim panen, dan sebelumnya juga memutus akses jalan serta merusak jembatan sehingga memperlambat pengiriman kakao ke pelabuhan.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang menguat membuat komoditas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli global, sehingga menahan reli kakao.
Tekanan dari sisi pasokan masih membayangi. Inventaris kakao yang dipantau ICE telah naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,25 tahun terakhir, yakni 3.559.258 kantong pada hari Kamis. Data pemerintah Pantai Gading juga menunjukkan petani telah mengirimkan 2,18 juta metrik ton kakao ke pelabuhan sepanjang tahun pemasaran internasional berjalan (1 Oktober 2025 hingga 27 September 2026), naik 19,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Faktor fundamental jangka menengah tetap memberi penopang harga. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator bulan lalu kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir. El Niño biasanya membawa kondisi lebih hangat dan kering ke Afrika Barat, yang dapat mengurangi kelembapan tanah, menekan pohon kakao, dan menurunkan hasil panen.
Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Lindt & Sprüngli menurunkan harga cokelat untuk kedua kalinya tahun ini dan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan organik 2026 menjadi 0% hingga 2%. Namun, penggilingan kakao Asia pada kuartal kedua melonjak 25 persen secara tahunan menjadi 224.646 metrik ton, dan penggilingan Amerika Utara naik 7,7 persen.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, di tengah tarik-menarik antara gangguan panen dan risiko El Niño serta prospek produksi musim 2026/2027 yang lebih ketat, melawan tingginya stok gudang dan penguatan dolar AS. Apabila sentimen tingginya inventaris dan kuatnya dolar kembali mendominasi, harga kakao berpeluang terkoreksi untuk menguji area support di kisaran 5.553 hingga 5.430 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran gangguan panen dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang melanjutkan penguatan menguji area resistance di kisaran 5.800 hingga 5.924 dolar AS per metrik ton.








