Rekomendasi Harga Gula 23 Oktober 2026

71

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir turun pada hari Kamis, 22 Oktober 2026.

Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup turun 0,32 sen atau 1,56% pada 20,13 sen per pon, penutupan terendah sejak awal pekan lalu. Harga dibuka di 20,42, sempat naik ke 20,64, lalu terus tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 20,10 pada sesi sore. Penutupan ini berada di ujung bawah kisaran yang terbentuk sejak harga menembus ke atas pada awal Oktober, dan semakin mendekati level 19,90 yang sebelumnya menjadi batas atas dan kini berfungsi sebagai support. Pada perdagangan gula putih London, kontrak Desember bergerak di kisaran 539,10 hingga 547,00 dolar AS per ton, dengan pergerakan yang tidak menentu akibat aktivitas pelaku kecil.

Faktor utama yang menekan harga adalah tekanan jual dari posisi jual jangka pendek. Selama beberapa jam sore hari, pelaku pasar terus menguji sisi jual dan mendorong harga turun ke 20,13, sementara tidak ada pembeli yang cukup kuat untuk menahan penurunan. Sentimen pasar global yang cenderung menghindari risiko turut membebani, dengan indeks Nasdaq anjlok sekitar 2,6% dan indeks semikonduktor turun lebih dari 6%. Meski harga minyak Brent melonjak sekitar 4% ke kisaran 113 dolar AS per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah, kenaikan itu belum cukup menahan harga gula. Harga minyak yang tinggi tetap menjaga daya tarik etanol bagi pabrik di Brasil, yang bisa menahan pelemahan lebih dalam.

Di sisi fundamental, prospek defisit pasokan global masih menopang harga. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp memproyeksikan produksi gula Thailand berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton, sementara Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi Brasil menjadi 42,2 juta metrik ton dan India menjadi 29,5 juta metrik ton akibat cuaca buruk. Di sisi lain, USDA masih memperkirakan stok akhir gula global 2026/27 naik 2,0% secara tahunan menjadi 44,41 juta metrik ton, sehingga ruang penguatan lanjutan relatif terbatas.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah, seiring berlanjutnya likuidasi posisi beli, sentimen menghindari risiko di pasar global, dan lemahnya minat beli baru. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support terdekat di 19,94 hingga 19,75. Namun, apabila gangguan panen di Brasil, kenaikan harga minyak, dan ancaman El Nino kembali memicu aksi beli teknikal, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 20,48 hingga 20,83.