(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS ditutup naik pada akhir pekan hari Jumat, 23 Oktober 2026, didukung kenaikan harga minyak dan data PMI manufaktur AS yang kuat.
Indeks dolar AS ditutup naik 0,21% pada 101,81.
Dolar AS menguat karena harga minyak Brent melonjak sekitar 3% ke dekat $116,7-116,9 per barel, level tertinggi sejak akhir April, setelah serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi dan laporan bahwa AS dapat melanjutkan serangan terhadap Iran.
Kenaikan minyak memicu kembali kekhawatiran inflasi, sehingga imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik sekitar 4-5 basis poin ke dekat 4,99%, dan tenor 2 tahun naik ke 4,69%.
Data ekonomi AS mendukung dolar AS. PMI Manufaktur Flash AS Oktober naik ke 56,0, level tertinggi dalam 53 bulan dan di atas perkiraan 55,5. PMI Jasa Flash turun ke 57,9, sedikit di bawah perkiraan 58,0, sedangkan PMI Komposit turun ke 57,6 dari 58,4. Namun indeks harga output naik ke 59,8, memperkuat kekhawatiran tekanan harga. Sentimen Konsumen University of Michigan Oktober (final) naik ke 48,0, di atas perkiraan 46,3. Ekspektasi inflasi satu tahun naik ke 4,7% dan ekspektasi inflasi lima tahun naik ke 3,5%.
Pasar memperkirakan The Fed menahan suku bunga di 3,75%-4,00% pada pertemuan FOMC 27-28 Oktober. Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan pada Oktober hanya sekitar 7-10%, turun dari sekitar 17% pada awal pekan lalu. Namun peluang kenaikan pada Desember masih sekitar 78-90%.
Pekan ini penuh dengan agenda penting. Pertemuan FOMC dimulai Selasa dan keputusan suku bunga diumumkan Rabu, 28 Oktober pukul 14.00 waktu AS (Kamis dini hari WIB), diikuti konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh. Kamis akan dirilis PDB Kuartal III dan Inflasi PCE September AS.
Hari Senin tidak ada data ekonomi penting yang dijadwalkan di AS, sehingga pasar akan mencermati perkembangan Timur Tengah dan harga minyak.
Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyatakan bahwa pada hari Minggu, Arab Saudi berhasil mencegat pesawat nirawak (drone) dan rudal yang ditujukan ke beberapa kota, termasuk ibu kota Riyadh, yang diluncurkan oleh kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran.
Pertempuran yang terus berlangsung antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman, ditambah dengan pernyataan Presiden Donald Trump pekan lalu yang mengisyaratkan bahwa AS dan Israel sedang merencanakan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu pada 3 November, akan dapat menaikkan harga minyak.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak naik didukung harga minyak yang tinggi, imbal hasil Treasury AS yang mendekati 5%, dan tingginya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Namun jika harga minyak turun akibat meredanya ketegangan di Timur Tengah dan aksi jual saham teknologi kembali menekan imbal hasil, dolar AS dapat terkoreksi. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 101,95-102,08. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 101,58-101,34.








