(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir naik tipis pada hari Jumat, 23 Oktober 2026, meski inventaris kakao di gudang ICE naik ke level tertinggi dalam 2,5 tahun. Kenaikan ini terjadi setelah harga anjlok tajam pada sesi sebelumnya.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup naik 10 poin atau 0,18%, pada kisaran $5.592 per ton. Sementara itu, kontrak kakao Desember di bursa ICE London ditutup naik 17 poin atau 0,41%.
Pada hari Kamis, harga kakao New York jatuh 261 poin atau 4,47% dan menyentuh level terendah dua minggu, tertekan oleh kenaikan inventaris ICE dan aksi jual teknikal. Pada hari Jumat, inventaris kakao yang dipantau ICE naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir, yakni 3.675.109 kantong.
Di sisi lain, pasokan dari Pantai Gading menjadi penopang harga. Data pemerintah menunjukkan petani mengirimkan 78.212 metrik ton kakao ke pelabuhan pada musim pemasaran berjalan (1 hingga 18 Oktober), turun 41 persen dari 133.209 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu. Estimasi produksi Pantai Gading musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya.
Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir, yang biasanya membawa kondisi lebih kering ke Afrika Barat dan berpotensi menurunkan hasil panen.
Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Penggilingan Amerika Utara kuartal ketiga turun 2,5 persen menjadi 109.978 metrik ton, lebih lemah dari ekspektasi. Namun, penggilingan Asia kuartal ketiga melonjak rekor 29 persen menjadi 233.767 metrik ton, dan penggilingan Eropa naik 3,2 persen menjadi 348.215 metrik ton.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi setelah koreksi tajam, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan lemahnya permintaan Amerika Utara, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil dan risiko El Niño. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual teknikal kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.510 hingga 5.429 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran pasokan dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.680 hingga 5.769 dolar AS per metrik ton.








