(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir turun pada hari Senin, 2 November 2026, di tengah tarik-menarik antara pengiriman kakao Pantai Gading yang sangat lambat dan melemahnya sentimen permintaan. Harga bergerak di sekitar level terendah satu bulan setelah sempat tertekan pada akhir pekan lalu.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup turun 0,33%, pada $5.435 per ton. Dalam perdagangan intraday, harga sempat naik 0,4 hingga 1 persen ke area $5.474 hingga $5.505 per ton. Pada penutupan Jumat, kontrak ini berada di $5.453 per ton.
Dari sisi pasokan, data pelabuhan menjadi penopang harga. Pengiriman kakao ke pelabuhan Pantai Gading pada pekan yang berakhir 1 November diperkirakan hanya 51.000 ton, turun 43,3 persen dari pekan yang sama tahun lalu. Total kedatangan sepanjang musim berjalan mencapai 209.500 ton, jauh di bawah 304.000 ton pada periode yang sama tahun lalu dan menjadi yang terendah dalam setidaknya enam tahun. Estimasi produksi Pantai Gading musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton musim sebelumnya.
Di sisi lain, tekanan masih datang dari stok dan permintaan. Inventaris kakao yang dipantau ICE berada di level tertinggi dalam 2,5 tahun, yakni 3.675.109 kantong pada 23 Oktober. Kekhawatiran atas potensi penjualan kakao dari Brasil, setelah pelemahan tajam real Brasil, juga membebani harga. Sementara itu, posisi jual (net short) spekulan di New York bertambah 514 kontrak menjadi 21.898 kontrak pada pekan yang berakhir 27 Oktober.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi di sekitar level terendah satu bulan, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan potensi penjualan dari Brasil, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil dan risiko El Niño. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.331 hingga 5.226 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran pasokan dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.570 hingga 5.704 dolar AS per metrik ton.








