Rekomendasi Harga Kakao 6 November 2026

133

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir anjlok pada hari Kamis, 5 November 2026, memperpanjang tren pelemahan tiga minggu dan menyentuh level terendah lima minggu. Kenaikan inventaris kakao di gudang ICE yang terus berlanjut meredakan kekhawatiran pasokan dan menekan harga.

Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup turun 275 poin atau 5,04%, pada kisaran $5.181 per ton. Sementara itu, kontrak kakao Desember di bursa ICE London ditutup turun 198 poin atau 4,84%.

Tekanan utama datang dari sisi stok. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir, yakni 3.740.476 kantong pada hari Kamis. Sentimen negatif lain berasal dari potensi peningkatan penjualan kakao Brasil setelah real Brasil anjlok sekitar 9% menyusul kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden, yang mendorong eksportir Brasil mempercepat penjualan karena memperoleh harga dolar yang lebih tinggi.

Di sisi lain, pasokan dari Pantai Gading menjadi penopang harga. Data pemerintah menunjukkan petani mengirimkan 44.241 metrik ton kakao ke pelabuhan pada pekan yang berakhir 25 Oktober, jauh di bawah 82.010 metrik ton pada pekan yang sama tahun lalu. Estimasi produksi Pantai Gading musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir, yang biasanya membawa kondisi lebih kering ke Afrika Barat dan berpotensi menurunkan hasil panen.

Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Penggilingan Amerika Utara kuartal ketiga turun 2,5 persen menjadi 109.978 metrik ton, lebih lemah dari ekspektasi. Namun, penggilingan Asia kuartal ketiga melonjak rekor 29 persen menjadi 233.767 metrik ton, dan penggilingan Eropa naik 3,2 persen menjadi 348.215 metrik ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi setelah koreksi tajam, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan potensi penjualan dari Brasil, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil dan risiko El Niño. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.071 hingga 4.962 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila aksi short covering dan kekhawatiran cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.362 hingga 5.544 dolar AS per metrik ton.