Harga gula berjangka ICE ditutup naik pada akhir perdagangan bursa ICE Futures New York Rabu dini hari (01/02). Harga komoditas ini mengalami penguatan terdukung pelemahan dollar AS.
Indeks dolar AS turun ke level terendah dalam lebih dari tujuh minggu setelah Trump mengatakan perusahaan obat telah melakukan outsourcing produksi karena devaluasi mata uang dengan negara-negara lain dan penasihat perdagangannya mengatakan Jerman telah memanfaatkan pelemahan euro untuk mendapatkan keuntungan kompetitif.
Melemahnya dolar AS membuat komoditas gula yang berbasis dolar ini menjadi lebih murah dalam mata uang lainnya.
Pada penutupan perdagangan dini hari tadi harga gula berjangka untuk kontrak paling aktif yaitu kontrak Maret 2017 terpantau naik. Harga gula berjangka paling aktif tersebut ditutup naik sebesar 0,14 sen atau setara dengan 0,69 persen pada posisi 20,45 sen per pon.
Untuk bulan Januari harga gula ICE melonjak 4,82 persen. Kenaikan tinggi harga gula didukung kenaikan pada minggu pertama bulan ini, dimana harga gula melonjak 6,36 persen. Lonjakan kenaikan 5 persen di awal perdagangan tahun 2017 dipicu penurunan produksi Brazil, India, Thailand, memberikan kontribusi kenaikan minggu ini. Demikian juga meningkatnya permintaan di Indonesia menguatkan harga gula.
Malam nanti akan dirilis data Adp Employment Change Januari dan ISM Manufacturing PMI Januari yang diindikasikan naik. Jika terealisir akan menguatkan dollar AS.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa harga gula berjangka untuk perdagangan selanjutnya berpotensi lemah dengan penguatan dollar AS. Harga gula kasar berjangka di ICE Futures New York berpotensi mengetes level Support pada posisi 20,00 sen dan 19,50 sen. Sedangkan level Resistance yang akan diuji jika terjadi kenaikan harga ada pada posisi 21,00 sen dan 21,50 sen.
Freddy/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center Editor: Asido Situmorang



