(Vibiznews-Commodity) Harga minyak mentah WTI terus kehilangan pijakannya pada hari Rabu sempat menembus batas di bawah $23.00 menuju $22.80, sebelum akhirnya pada perdagangan sesi Asia pagi hari ini terkoreksi naik kembali ke atas $23.00 menuju $23.23.
Harga emas hitam tergerus lebih jauh setelah EIA melaporkan hampir 2 juta barel diproduksi selama minggu lalu, menambah kenaikan sebelumnya 7.7 juta barel.
Data lebih jauh menunjukkan persediaan minyak mentah di Cushing bertambah sebanyak 563.000 barel.
Penambahan persediaan minyak mentah AS meskipun kurang daripada yang diperkirakan, tidak membantu harga yang tetap tertekan dan diperdagangkan disekitar $23.00 per barel.
Rusia dan Arab Saudi masih terus berperang, dengan masing-masing merasa yakin pihak lawannya akan mengalah lebih dahulu. Saat sekarang ini Rusia kelihatannya lebih punya peluang menang dibandingkan dengan Arab Saudi. Rusia memiliki lebih banyak persediaan cadangan dan telah menyesuaikan diri lebih baik terhadap turunnya harga minyak. Selain itu ekonomi Rusia lebih terdiversifikasi. Minyak hanya menyumbangkan pemasukan sebesar 25% terhadap “revenue” negara Rusia sedangkan minyak memberikan sumbangan pemasukan sebesar 75% terhadap “revenue” negara Arab Saudi. Tidak peduli siapapun yang lebih unggul dan sekalipun ada laporan-laporan bahwa kedua belah pihak telah mengadakan pembicaraan secara informal, dibutuhkan beberapa bulan sebelum kedua belah pihak akan menyerah.
Penurunan lebih jauh dari harga minyak akan berhadapan dengan “support” terdekat di $23.00 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $21.62 dan kemudian $19.75. Sedangkan kenaikan dari harga minyak akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di $26.79 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $30.70 dan kemudian $37.74.
Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido



